Juragan, oh, Juragan…

June 28th, 2008 by a-poetry87

Hiyakk….. Juragan!!

What d’u think ’bout diz word??

Huhuw….
4 d 2nd time… secara ‘tdk resmi’ sy musti hrs kudu wajib punya ‘Pak Bos’….
Yaks, tanpa bmaksud mengabaikan semangat feminisme, faktanya… orang2 yg bbrp saat trakir mempekerjakan saya emang berjenis kelamin laki-laki…huks!!

Pertama, pas expo slh satu univ swasta di Surabaya tempo hari… -> dimana saya beraksi di belakang panggung, hwakkaka… –jarang2 niiyyy!!!–
Dan kedua, yang berhasil bikin saya duduk -nahan dingin ;p- selama 3 jam saben Sabtu-Minggu… sambil senam mulut cicit-cuit…. >>nggak seberlebihan itu siy… sesekali sy masi punya hak buat berdiri barang sebentar demi menuntaskan hasrat ke belakang, hoho…

Dan, honestly, bbrp waktu yg lalu saya smpt bimbang.
Gara2nya oh, gara2nya…. ada tawaran buat nyoba ngajuin diri, dgn jenis pekerjaan yg sama, ke tempat laen…
sedang.. di tempat yg skrg sy masih sdg belajar mencintai…huhuw….
Rasanya kok sayang bgt kl hrs ninggalin bgitu aja… mengingat, walo suka tantangan, kadang saya ndak siap buat gambling… dalam arti ninggalin sesuatu buat sesuatu lain yang ‘belum jelas’.
Huuffhh… ditambah, ya itu td… sy masih dalam proses mencintai… *lha-mosok-mau-ditinggal-gitu-aja mode: ON*

Jadi… pasti lg pada mikir, hubungannya ma judul ‘Juragan, oh, Juragan…’ di atas, apa yaks?? Saya juga bingung sendiri….hwakakkaka….

Mungkin salah satu dr sekian banyak faktor, ya… karena… ‘Pak Bos-Pak Bos’ saya
mmg layak terima komitmen yg uda sy bikin sejak awal…. baik dgn dr sy sendiri, maupun dgn mereka….

Trying 2 be prof isn’t easy, Jeung…. =’)

Tentang Belajar Menulis…

June 27th, 2008 by a-poetry87

Beberapa tulisan yang saya posting ini tadinya saya buat untuk kepentingan tugas kuliah. Namun untuk proses belajar dan adanya keinginan berbagi, saya beranikan diri untuk memajangnya di blog. Mohon masukan berupa saran dan kritik dalam bentuk apapun… jika Anda membaca, menikmati, atau justru tidak menikmatinya. Sugeng dhahar-selamat makan…. =’)

Film Indonesia: antara Kualitas dan Kuantitas

June 27th, 2008 by a-poetry87

PERKEMBANGAN PERFILMAN INDONESIA:

Antara Kualitas dan Kuantitas

oleh

Putri Utami Rizqianingtyas[1]

 

 

Sudah
bangkitkah dunia perfilman Indonesia saat ini? Pertanyaan ini banyak terlontar setelah
bioskop-bioskop yang tersebar di tanah air mulai ramai dengan produksi film dalam
negeri. Sebut saja Petualangan Sherina, Jelangkung,
Ada Apa dengan Cinta?, Arisan!, Biarkan Bintang Menari, Brownies, Mengejar
Matahari, Arisan, Mendadak Dangdut, Jomblo, Janji Joni, Gie, Berbagi Suami, Denias
Senandung di Atas Awan, Naga Bonar (Jadi) 2
, dan masih banyak lagi judul
lainnya, yang kesemuanya merupakan garapan sineas Indonesia. Ini tentu
merupakan angin segar setelah sebelumnya bioskop-bioskop dalam negeri
didominasi oleh produksi film luar negeri, yakni Hollywood, Hong Kong, dan
Bollywood.

Yang
lebih menyejukkan, tak berhenti sampai di situ, beberapa diantaranya bahkan
telah berhasil meraih penghargaan yang cukup membanggakan. Opera Jawa, film arahan Garin Nugroho yang diluncurkan pada tahun
2006, berhasil membawa Artika Sari Devi sebagai aktris terbaik dan Rahayu
Supanggah sebagai komposer terbaik pada Penghargaan Film Asia di Hongkong.
Sementara Berbagi Suami mendapat
penghargaan Golden Orchid Award sebagai Best Foreign Language Film dalam
Festival Film Hawaii, Amerika Serikat. Beberapa penghargaan telah diraih oleh
para sineas muda Indonesia di kancah internasional. Namun apakah hal ini sudah
bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan dan peningkatan kualitas perfilman
Indonesia?

 

Tentang Perfilman Indonesia

Film, selain dipahami sebagai
sebuah hasil karya seni, juga dimaknai sebagai media komunikasi dalam
perspektif komunikasi massa yang sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya dimana
film itu dibuat. Perpaduan antara realitas sosial dan rekonstruksi realitas
yang dibuat oleh industri film menjadikan film sebagai sarana yang unik untuk
memahami kondisi sebenarnya dalam masyarakat. Sebagai refleksi realitas sosial,
film sering kali menjadi tolok ukur gambaran peristiwa yang terjadi dalam
masyarakat pada suatu waktu.

Sejarah perfilman sendiri
bermula dari budaya masyarakat yang menganggap bahwa menonton film adalah
hiburan yang murah dan meriah. Namun seiring berjalannya waktu dan
berkembangnya teknologi komunikasi, film terlahir kembali dengan tidak hanya
menjadi hiburan masyarakat kelas menengah ke bawah, tapi juga kalangan menengah
ke atas.

Di Indonesia, dunia perfilman
mengalami proses yang cukup panjang dan sempat meraja di negeri sendiri dengan tingginya
minat khalayak terhadap film-film Indonesia di bioskop lokal, seperti Catatan si Boy yang dibintangi Onky
Alexander dan Meriam Bellina. Tahun 90-an, film Indonesia kian didominasi oleh
tema-tema dewasa dan menjadikannya hanya layak putar di bioskop-bioskop
pinggiran. Hingga pada awal tahun 2000, muncul Petualangan Sherina, sebuah film musikal anak-anak besutan Riri
Riza dan Mira Lesmana yang menyebabkan antrian panjang di bioskop lebih dari
sebulan lamanya. Tak lama kemudian, film Indonesia kembali hadir dan
bermunculan, seakan terbangun dari tidur panjangnya.

 

Kualitas vs Kuantitas

Bangkitnya perfilman Indonesia
dapat ditilik melalui dua sudut pandang. Pertama, dari segi kualitas yang
terdapat di dalamnya. Lepas dari subyektivitas yang sudah pasti ada dalam
keobyektifan juri-juri festival film, menjadi pemenang dan dianggap berhak memperoleh
penghargaan tentu bukanlah tanpa pertimbangan. Keberadaan film-film karya Garin
Nugroho dan Nia DiNata yang turut mengharumkan nama bangsa di kancah
internasional patut diapresiasi lebih.

Kedua, dari segi kuantitas,
atau banyaknya film yang diproduksi. Selama kurun waktu kurang dari 10 tahun
terakhir pasca reformasi, setidaknya ada lebih dari 137 judul film yang diproduksi di Indonesia, baik yang
beredar secara indie maupun melalui jaringan bioskop 21. Kesemuanya tak lepas
dari peran orang-orang yang berada di balik layar dengan gelar sutradaranya,
seperti Garin Nugroho,
Nia DiNata, Riri Riza, Rudi Sudjarwo, Hanny R.
Saputra, Hanung Bramantyo, Tedy Soeriaatmaja, Rizal Mantovani, Dimas
Djayadiningrat, Jose Purnomo, maupun John De Rantau. Garin Nugroho bisa
dikatakan merupakan satu dari sekian sutradara yang berani meramu warna tema
yang ‘berbeda’, yang relatif tidak mengikuti arus, meski acap dinilai kurang
komersil.

Pada satu sisi, banyaknya
penghargaan yang diraih oleh sineas muda kita seolah menunjukkan peningkatan
kualitas perfilman Indonesia. Namun kita tak mungkin menutup mata bahwa di luar
film-film Indonesia yang berhasil meraih penghargaan, tak sedikit pula film
Indonesia yang dicaci bahkan dimaki. Boikot insan perfilman terhadap hasil FFI
2006 merupakan suatu bukti kekecewaan sekaligus kepedulian mereka terhadap
perkembangan film di tanah air.

Tema film yang banyak berkisar
antara romantisme, remaja, kehidupan perkotaan, dan horror, juga perlu diperhatikan
kembali, meski bisa jadi memang tema-tema semacam inilah yang disukai pasar.
Namun kembali lagi, apalah artinya kuantitas jika tak dibarengi dengan kualitas
yang menjadikan film memang layak diapresiasi dan dibanggakan? Karena pada
kenyataannya, potret kehidupan kita tidak melulu merefleksikan pola yang
itu-itu saja, menimbang keragaman budaya masyarakat kita yang luar biasa
plural.

 

Lantas?

Menurut
Slamet Rahardjo Djarot, aktor yang mengawali debut karirnya pada tahun 1970
dalam film besutan Teguh Karya, Wajah
Seorang Lelaki (Ballad of A Man)
, masih terlalu pagi menganggap perkembangan
yang tengah berlangsung ini sebagai awal kebangkitan perfilman Indonesia. Sementara
itu, kriteria film yang bagus itu sendiri masih sangat beragam. Bagi sebagian
orang, film yang bagus adalah film yang laku di pasaran. Namun bagi sebagian
lainnya, film yang bagus adalah film yang berhasil menyampaikan pesan
pembuatnya, atau bahkan memenangkan penghargaan. Ini jelas tak lepas dari sifat
industri perfilman itu sendiri, yang selain sebagai institusi bisnis yang mengejar
keuntungan juga merupakan industri yang mengusung ideologi tertentu.

Setiap
orang boleh memiliki asumsi yang berbeda mengenai kebangkitan film Indonesia. Setiap
orang pun berhak menilai mana film yang bagus dan mana yang bukan. Namun yang
perlu disepakati bersama, bagaimanapun, sebagai sebentuk media komunikasi, film
tak boleh digarap dengan mengabaikan fungsi sosialnya kepada masyarakat. Ada
tanggung jawab yang seyogyanya diemban dan disadari oleh para pembuat film sehingga
film yang diproduksi tidak sekadar menawarkan tema sejenis, jika tak boleh
dikatakan seragam.
Karena
selain sebagai dokumentasi (sejarah) kultur dalam masyarakat, film juga dinilai
sangat efektif dalam memengaruhi khalayaknya.


[1] Penulis adalah mahasiswi
jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Unair, NIM. 070517559

Membaca Hongkong melalui Film

June 27th, 2008 by a-poetry87

MEMBACA HONGKONG MELALUI FILM

oleh

Putri Utami Rizqianingtyas[1]

 

 

Apa
yang terpikir dalam benak Anda saat mendengar atau membaca kata “Film
Hongkong”? Begitu mengetahui bahwa saya harus membuat sebuah ulasan mengenai sebentuk
nation film, secara spontan yang terlintas
dalam benak saya adalah film Hongkong. Dan ujungnya, saya justru bertanya
kepada diri saya sendiri, apa yang langsung terngiang dalam benak saya begitu
teringat “Film Hongkong”.

Tak
puas dengan asumsi pribadi, saya lantas menghubungi beberapa orang terdekat
melalui tatap muka, layanan SMS (Short
Message Service)
, bahkan chatting untuk
melakukan survey kecil-kecilan mengenai persepsi mereka terhadap film Hongkong.
Hasilnya… sungguh sesuai dugaan! Tujuh dari sepuluh orang yang saya tanya
menyebutkan “mafia” pada jawaban pertama mereka, sementara yang lain menjawab
komedi, silat, dan vampir. Saya sebutkan di sini sesuai dugaan, karena, ya…
asumsi awal saya juga menggiring saya pada sosok mafia Hongkong yang berpakaian
serba hitam, selalu menyimpan pistol di balik saku baju atau celananya,
berkacamata hitam, serta tak jarang di lehernya tergantung kalung emas.

Faktanya,
banyak dari orang-orang yang menjadi responden saya rupanya mengamini persepsi
awal saya terhadap film Hongkong. Begitu identiknya film Hongkong dengan mafia dewasa
ini hingga kami lupa bahwa dulu kisah mengenai mayat yang bisa hidup kembali
(baca: vampir) serta pertarungan di dunia persilatan sempat meraja di Hongkong
(juga di Indonesia) pada era perfilman tahun 1990-an. Masih lekat dalam ingatan
saya ketika Hongkong belum menjadi bagian dari Cina dan merupakan bagian dari
koloni Inggris, kebanyakan film produksinya bercerita tentang vampir-vampir
yang tak jarang dikisahkan lucu, bahkan bersahabat dengan manusia. Sementara di
sisi lain saya juga sudah bisa melihat kebolehan para aktor berlaga melawan
musuh-musuh yang datang menyerang, yang pada akhirnya selalu dimenangkan oleh
pihak yang mengatasnamakan kebajikan.

Maka
tak heran jika kemudian empat dari tujuh orang yang menjawab “mafia” kemudian
melampirkan sederet nama aktor Hongkong papan atas yang memang mengingatkan
mereka pada film-film Hongkong, seperti Jackie Chan, Jet Lee dan Andy Lau.
Apakah benar Hongkong hanya melulu berisi mafia? Hal inilah yang sebenarnya melandasi
saya untuk Membaca Hongkong melalui Film,
dan bukannya  memilih film bangsa lain
dalam ulasan tugas kali ini.

 

Hongkong Hanya Berisi Mafia?

Untuk
menindaklanjuti rasa penasaran yang sudah sedemikian akut, meluncurlah saya ke
persewaan VCD/DVD yang terletak tak jauh dari rumah. Terus terang saja, sebelum
ini saya bukanlah penikmat film garapan sineas Hongkong. Maka setibanya di
sana, saya langsung tenggelam di kolom film-film Mandarin dan mulai memilah
beberapa judul yang sudah saya incar sebelumnya.

Malang
tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Beberapa judul yang sedianya akan
saya pinjam rupanya telah disewa orang lain terlebih dahulu. Maka berbekal
semangat juang angkatan ’45, saya memilih judul-judul lain, yang semoga saja
dapat mengobati kekecewaan saya.

Invisible Target, film
pertama yang saya nikmati, tergolong yang paling akhir dirilis. Bercerita
tentang konflik yang dialami good cop vs
bad cop
lengkap dengan pertarungan terhadap mafia, yang ternyata didalangi
oleh beberapa pihak di jajaran tinggi kepolisian sendiri. Film ini
terang-terangan menunjukkan sisi buruk kepolisian yang tak jarang memanfaatkan
informasi yang dimiliki untuk kepentingan pribadi, tetapi sekaligus juga
memberikan wacana bahwa masih ada polisi yang baik, yang menganggap tugas utamanya
menangkap, bukannya membunuh penjahat, sekalipun masih ada dendam pribadi di
baliknya.

Setelah
puas menonton Invisible Target yang
ber-genre action thriller drama, dengan tekun saya mulai berpindah ke Twins Mission. Urat tegang saya
mengendur karena pada film ini saya banyak disuguhi adegan-adegan pertarungan
kocak yang diselingi intrik kungfu. Ya, berbeda dengan film sebelumnya, Twins Mission memang film ber-genre Action Comedy yang bercerita
tentang upaya memperebutkan Tasbih Langit Budha, yang konon dapat membangkitkan
yang sudah mati serta memberikan harapan hidup bagi orang yang menderita
penyakit tak terobati sekalipun. Dengan pembagian peran protagonis dan
antagonis yang jelas antara dua saudara kembar yang dulunya pernah memiliki
perguruan tinggi untuk melatih kungfu khusus anak-anak kembar, film ini bisa
dibilang cukup menghibur. Belum lagi peran polisi yang digambarkan di sini
terlihat sok tau dan tolol.

Masih
belum cukup puas, saya kemudian melanjutkan dengan menonton Undercover. Film dengan alur gabungan
yang tergolong menganut aliran impressionis ini banyak menampilkan ranah
psikoanalisis sang tokoh yang, lagi-lagi, berperan sebagai polisi, lengkap
dengan sisi baik dan buruknya. Dilematisme yang dirasakan sang tokoh terungkap
melalui kebiasaannya nyandu narkotika,
pembunuhan terhadap sahabatnya yang penjahat, sekaligus keinginannya untuk
menjadi polisi yang baik karena tak ingin mengecewakan ayahnya.

Dan
terakhir, saya pun menonton Blood
Brothers,
sebuah film drama action yang
bersetting tempo dulu. Menjual kisah ambisi seorang laki-laki yang hidup di
kota kecil, yang ingin pergi ke Shanghai untuk mengubah hidupnya dengan
mengajak serta adik serta sahabat laki-lakinya, film ini menegaskan kembali
bahwa untuk memperjuangkan pilihan dalam hidup selalu ada yang harus
dikorbankan. Di satu sisi mereka memang berhasil meningkatkan taraf hidup serta
kelas sosialnya, namun yang terjadi pada akhirnya justru ketiganya saling bunuh
karena sang kakak sudah kelewat terobsesi demi mewujudkan impiannya merebut
kekuasaan dan harta (surga dunia).

Setelah
menikmati keempat film ini, yang langsung terpikir kemudian oleh saya adalah, betapa
perindustrian film di Hongkong sudah sedemikian kentalnya dengan tema-tema yang
tak jauh dari kekerasan, upaya untuk meraih kekuasaan, kehidupan para gangster
atau mafia, kepolisian, intrik dan cinta di balik dendam, dan pastinya
aktor-aktris yang ganteng dan cantik.

 

Film Hongkong sebagai Potret Hongkong
‘Sebenarnya’

Sudah
tidak perlu diperdebatkan lagi, bahwa film,
selain dipahami sebagai sebuah hasil karya seni,
juga dimaknai sebagai media komunikasi dalam perspektif komunikasi massa yang
sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya dimana film itu dibuat. Perpaduan antara
realitas sosial dan konstruksi realitas yang dibuat oleh industri film
menjadikan film sebagai sarana yang unik untuk memahami kondisi sebenarnya
dalam masyarakat.

Sebagai dokumentasi (sejarah)
kultur dalam masyarakat, film dianggap sangat efektif dalam memengaruhi
khalayaknya tanpa pernah berlaku sebaliknya. Ini disebabkan oleh karena film
selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan
kemudian memproyeksikannya ke atas layar dalam perspektif sosial. Menurut
Aminulloh (2002), sebagai refleksi realitas sosial, film sering kali menjadi
tolok ukur gambaran peristiwa yang terjadi dalam masyarakat[2].

Zaman
boleh berganti, namun aksi baku hantam tetap saja telah menjadi ciri khas
tersendiri bagi film-film Hongkong, sama halnya dengan kebaikan selalu menang
dalam setiap film Hollywood. Namun yang jadi soal adalah ketika wacana ini
didiskusikan dalam ruang sosial. Apakah sedemikian tingginya tingkat
kriminalitas di Hongkong mengingat film memang merupakan refleksi atas realitas
sosial?

Bicara
tentang realitas, tentu harus kita pahami terlebih dahulu konsep realitas itu
sendiri. Realitas dipahami sebagai kondisi sebenarnya. Nah, yang menjadi
pertanyaan selanjutnya adalah, kondisi sebenarnya menurut siapa? Setiap orang
boleh melihat sesuatu melalui sudut pandang yang berbeda-beda lantas meng-klaim
sudut pandangnyalah yang paling benar. Konsep ‘benar’ ini menjadi benar ketika
seseorang itu dapat dengan tepat menggambarkan apa yang dilihat (atau dirasakan
dengan indera)-nya tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan. Lalu bagaimana jika
semua orang ‘benar’, padahal pemahaman mereka terhadap sesuatu itu berbeda?

Terkait
dengan hal tersebut, tentu ada sudut pandang yang berbeda pula mengenai
realitas dalam film, jika dilihat melalui sudut pandang pemilik industri film,
masyarakat, ataupun film maker-nya.
Ini pula yang terjadi dalam film Hongkong. Bisa jadi, pembuat film memproduksi
film dengan tema-tema tersebut karena mengira film-film semacam itulah yang
disukai khalayak, ditambah lagi dengan ada kepentingan pemilik industri,
mengingat bagaimanapun, industri film merupakan institusi bisnis. Dengan modal
yang mencapai bilangan nyaris tak terhingga, mana ada produser yang tidak
mengharapkan laba semaksimal mungkin dari setiap film yang diproduksinya.

Nama
besar Jackie Chan, Andy Lau, Jet Lee, dan Chow Yun Fat seolah sudah menjadi jaminan
tersendiri untuk meraup untung sebesar-besarnya. Ini tentu tak lepas dari
eksistensi mereka dalam dunia perfilman Hongkong yang telah dirintis sejak
lama. Sosok mereka bahkan telah menjadi mitos dan kebanggaan Hongkong, serupa
merekalah hero dalam kehidupan
sebenarnya.

Sejarah
tentang Triad, sebutan bagi mafia Hongkong sendiri bermula sejak tahun 1674, di
Fujian, China, ketika negeri tersebut tengah dikuasai bangsa Manchu. Kelompok
yang a
walnya hanya terdiri
dari 128 pendeta Budha yang menguasai Kung Fu ini mengajarkan ilmu bela diri kepada
masyarakat agar mampu mengusir penjajah Manchu. Setelah penjajah terusir,
organisasi ini tetap eksis, namun kesulitan finansial menyebabkan mereka
terlibat dalam berbagai kegiatan ilegal. Kelompok Triad pun akhirnya
menyeberang ke Hongkong karena kekerasan sudah menjadi pilihan hidup mereka. Organisasi
kriminal ini terus berkembang hingga jaringan operasinya pun saat ini telah
menjamah Asia, Eropa, dan Amerika Serikat. [3]

Secara iconography, Triad begitu identik dengan pria berkemeja putih, jas
hitam, kacamata hitam, topi, pistol, rokok, dan meskipun berpakaian formal, dapat
dipastikan selalu ada satu atribut yang menunjukkan bahwa mereka adalah
gangster, misalnya rambut yang dicat atau berkuncir, mengenakan anting,
bertato, dan lain sebagainya. Sementara pihak kepolisian begitu lekat dengan
pria berambut cepak, berpakaian rapi dan berdasi, serta seringkali mengenakan earphone, untuk kepentingan
memata-matai.

Dari sini terlihat bahwa
dominasi laki-laki lebih besar, jika dibandingkan dengan wanita, sebagaimana
yang terjadi hampir di setiap belahan bumi lainnya. Dalam film, wanita acapkali
diposisikan sebagai pelengkap dan pemuas kebutuhan kaum pria. Namun tak jarang
juga menjadi alasan utama konflik, selain perebutan kekuasaan.

Dilihat dari segi karakter, secara
umum semua tokoh digambarkan begitu hati-hati dan waspada, mengingat cerita
memang berkisar antara spionase dan intrik. Namun yang menarik, jika ini
terjadi pada tokoh dengan nama-nama besar, mengingat posisi mereka sebagai
tokoh utama, sejahat apapun mereka pada akhirnya toh akan ditunjukkan juga sisi
baiknya. Sedikit banyak, harus diakui bahwa hal ini dipengaruhi oleh ide-ide
dasar cerita Hollywood.

Sementara dari segi setting
ruang, penggunaan ruang terbuka dan tertutup dalam film-film Hongkong nyaris
berimbang. Landscape Hongkong yang
indah hanya sedikit diperlihatkan dalam film Twins Mission, sementara sisanya
banyak terfokus pada kehidupan kota modern yang sibuk dengan banyaknya
gedung-gedung pencakar langit, menunjukkan Hongkong sebagai negara maju yang
berkembang dengan sangat pesatnya. Begitu pula yang diperlihatkan dalam ketiga
film lainnya. Nyaris tidak ada pemandangan hijau, karena cerita memang berpusat
pada kehidupan manusia modern, lengkap dengan segala polemiknya.

Tak lupa, yang juga perlu saya
bahas di sini adalah aksi baku hantam yang ditampilkan, terutama dalam film Invisible Target. Mulai dari keributan
di kafe, kejar-kejaran (baik menggunakan kaki maupun kendaraan bermotor), baku
tembak, pukul-pukulan, lompat dari atap gedung satu ke gedung yang lain, hingga
ledakan bom yang luar biasa dahsyat, yang sudah tentu menghabiskan dana tidak
sedikit dalam proses pembuatannya. Begitu berdarah-darah dan menghancurkan
banyak sarana maupun pra sarana. Namun jika dilihat lagi, rasanya setimpal jika
dibandingkan dengan persepsi masyarakat, bahwa action (thriller) sudah begitu lekatnya dengan film Hongkong.


[1] Penulis adalah mahasiswi Departemen
Komunikasi FISIP Unair, NIM. 070517559

[2] Aminulloh, Akhirul. 2002. Pesan Tentang Narkoba dalam Film
Trainspotting (Studi dengan Pendekatan Semiotika), Tesis.
(
http://digilib.itb.ac.id/gdl.php?mod=browse&op=read&id=jiptumm-gdl-s1-2002-akhirul-4951-trainspott&q=Hidup
diakses tanggal 19 April 2007).

[3] Aridus. 2004. Preman, Mafia dan “Leak”, Essai. (Sumber:
Bali Post, 9 Mei 2004. http://www.nicaso.com/pages/doc_page185.html 
diakses tanggal 7 Januari 2008)

“Tolak Angin Premiumization”: a Case Study of Consumer Learning

June 27th, 2008 by a-poetry87

“Tolak
Angin Premiumization”:

a Case
Study of Consumer Learning

 

Premiumisasi
Tolak Angin

–Latar Belakang–

Berawal
dari ‘sekadar’ ingin memperluas target market, Tolak Angin membuat terobosan
baru dengan melakukan premiumisasi
[1]. Iklan
yang semula dibintangi oleh Basuki
[2],
selanjutnya digantikan oleh grup band Dewa 19, artis Titik Puspa, Agnez Monica,
dan budayawan Butet Kertaradjasa yang memang sudah dikenal oleh masyarakat.
Tagline pun berganti “Orang pintar minum Tolak Angin”.

Usaha PT. Sido Muncul untuk menarik minat kalangan
menengah atas agar mau membeli salah satu produk unggulannya ini tak melulu
berisi perubahan isi iklan, tetapi juga dibarengi dengan inovasi lain yang
dianggap mendukung. Inovasi yang dimaksud di sini antara lain adalah
pembangunan pabrik dengan standard Good
Manufacturing Process
(GMP), adanya upaya agar produk Tolak Angin ‘naik
kelas’ menjadi obat herbal yang berstandard dan tidak hanya dikenal sebagai
jamu, juga pendekatan melalui seminar. Seminar yang mengundang para dokter anggota
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) ini dilakukan dalam rangka mengomunikasikan upaya
pencapaian Tolak Angin sesuai standard produk farmasi.
[3]

Meski tidak mudah dan sempat dipandang sebelah mata oleh
berbagai pihak, langkah Tolak Angin dalam melakukan rebranding ini pada akhirnya menunjukkan hasil yang cukup
signifikan. Selain berhasil mendongkrak omset hingga 40% pada tahun 2006 lalu,
dengan adanya pabrik yang baru diresmikan pada tahun 2007 kapasitas produksi
Tolak Angin mencapai 40 juta bungkus setiap bulannya.

Prestasi lainnya, bersama dengan Kuku Bima yang juga
produk unggulan PT. Sido Muncul, Tolak Angin berhasil meraih Top Brand Award 2008
versi Majalah Marketing pada bulan Pebruari tahun ini. Sekadar informasi, ini
adalah untuk kedua kalinya penghargaan ini diraih oleh Tolak Angin dan Kuku
Bima.

Untuk memperolehnya, Sido Muncul harus menempatkan merek
bukan hanya sebagai identitas, namun sekaligus juga menjadikannya sebagai
ekuitas yang tinggi bagi perusahaan dalam rangka mempertahankan image dan
loyalitas jangka panjang. Karena merek terkuat adalah merek yang selama
bertahun-tahun mampu menempatkan diri pada posisi puncak, baik dalam top of market share, top of mind share, maupun top of commitment share. Top Brand Award sendiri
merupakan anugerah tertinggi bagi sebuah merek yang diberikan oleh Majalah Marketing berdasarkan hasil
riset nasional yang dilakukan oleh Frontier Consulting Group, di enam kota
besar di Indonesia, yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan
Makassar, dengan melibatkan 3000 responden.
[4]

Tak hanya itu, sebelumnya Tolak Angin juga berhasil meraih Cakram Award, ICSA (Indonesian Customer Satisfaction Index) 2007, serta Sertifikat Obat Herbal Terstandar (OHT). ICSA merupakan penghargaan atas meningkatnya
kepercayaan konsumen terhadap produk Tolak Angin melalui komunikasi iklannya.
Sedang sertifikat OHT diperoleh
sebagai tanda bahwa produk Tolak Angin telah memenuhi prosedur standardisasi
penggunaan bahan-bahan dan uji pre klinis, sesuai regulasi yang dicanangkan
oleh Badan POM RI.

 

Tolak Angin
VS Bintangin

–Permasalahan–

Bergantinya brand
ambassador
serta tagline Tolak
Angin rupanya cukup ramai dibicarakan. Tak hanya oleh para ahli (komunikasi)
periklanan, orang awam pun ikut nimbrung perihal ini. Sebagian memandang sinis,
sebagian lainnya memuji. Meminjam kalimat seorang blogger di dunia maya:

“Iklan
Tolak Angin dengan slogannya ‘orang pintar minum tolak angin’ memang seharusnya
mengusik kita untuk berpikir kalau gitu
jamu apa yang bisa diminum oleh orang yang ngga
pintar…”
[5]

Pro dan kontra terhadap tagline yang diusung oleh Tolak
Angin rupanya ditangkap dengan sangat cermat oleh Bintangin, sang kompetitor
yang berada di bawah bendera Bintang Toedjoe, hingga berhasil membuat tagline
dalam bentuk ‘Mau minum jamu masuk angin aja kok mesti pintar’. Bagaimana Tolak
Angin menanggapi hal ini? Inilah permasalahan utama yang menurut saya merupakan
fenomena menarik untuk dikaji di sini.

 

Tentang Pembelajaran
Konsumen

–Kerangka Teori–

Consumer
learning
, atau yang juga kita kenal
sebagai pembelajaran konsumen, merupakan suatu proses dimana individu melakukan
pembelian produk, baik barang maupun jasa, berdasarkan pada pengetahuan dan
pengalaman yang diaplikasikannya terkait perilaku konsumen yang mereka miliki.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran (learning), antara lain motivasi, yang pada setiap individu
berbeda-beda, tergantung pada kebutuhan dan tujuannya masing-masing; cues, merupakan stimulus yang
mengarahkan motivasi; respon, yang dilakukan untuk menanggapi cues; serta recognition, atau peneguhan sikap konsumen pasca memberikan respon.
Dalam bentuk yang disederhanakan, proses ini dapat berbentuk:

 

 

Teori-teori yang  mengkaji
tentang pembelajaran konsumen ini sendiri terdiri atas Behavioral Learning dan Cognitive
Learning.

 

 

 

 

 

 

 

 

Behavioral
Learning
merupakan pembelajaran yang
dilakukan dalam tataran perilaku (calon) konsumen, mencakup Classical Conditioning, Instrumental
conditioning,
serta Observational
Learning.
Sedangkan Cognitive
Learning
merupakan pembelajaran kognitif pada ranah kepercayaan atau
pengetahuan (calon) konsumen yang mencakup Information
Processing
dan Involvement Theory.

Classical
Conditioning
memandang perilaku pembelian
sebagai hasil dari asosiasi yang terjadi antara stimulus yang dikondisikan
maupun stimulus yang tidak dikondisikan. Stimulus yang dikondisikan (conditioned stimulus) yang dimaksud di
sini adalah penawaran melalui iklan, sedang Stimulus yang tak dikondisikan (unconditioned stimulus) merupakan
referensi atau rujukan untuk membeli produk dengan merek tertentu. Beberapa
strategi yang biasa digunakan dalam Pengondisian Klasik ini adalah Repetition, Stimulus Generalizations, dan Stimulus Discrimination

Melalui repetisi, konsumen dapat dipuaskan oleh sejumlah
terpaan, namun lambat laun perhatian
mereka akan berkurang. Maka, untuk menghindari hal ini perlu dilakukan Cosmetics Variation (dengan mengubah
tampilan iklan, namun isi pesan tetap) atau Substantive
Variations
(dengan mengubah isi pesan, namun belum tentu mengubah tagline). Walaupun prinsip dasar
repetisi ini telah diakui oleh para pengiklan, namun tidak semuanya menyetujui
jumlah yang sesuai untuk repetisi. Maka, sebagai jalan tengah, dibuatlah tiga
asumsi dasar repetisi yang dikenal sebagai Three
Hit Theory
. Asumsi ini menjelaskan bahwa pada terpaan pertama, konsumen aware atau sadar akan keberadaan produk;
kedua, konsumen dihadapkan pada relevansi produk; dan terakhir, konsumen
diingatkan oleh keuntungan yang bisa diperoleh dengan menggunakan produk
tersebut, tanpa perlu menghitung berapa banyak repetisi yang harus dilakukan.

Tak hanya repetisi, Teori Pengondisian Klasik juga
mempelajari tentang kemampuan individu dalam menggeneralisasi. Di tengah
persaingan produk yang kian kompetitif, ada beberapa hal yang dapat dilakukan
oleh para marketer, yakni product line, form, and category extensions
(mengasosiasikan produk baru dengan merek yang sudah lebih dulu dikenal); family branding (memberikan merek yang
sama kepada segala bentuk perluasan atau ekstensi yang dilakukan); serta licensing (melekatkan brand yang terkenal pada produk baru,
misalnya dengan menggunakan nama perusahaan atau artis yang sudah lebih dulu
dikenal).

Selain Repetition
dan Stimulus Generalization, ada pula
Stimulus Discriminations yang berusaha
memberikan stimulus yang berbeda kepada konsumen disebabkan adanya kompetisi.
Hal ini dapat dilakukan melalui positioning
(menempatkan merek sesuai dengan target
market
-nya) dan product
differentiation
(atribut yang membedakan produk dengan produk lain sejenis,
yang oleh konsumen dianggap relevan, bermakna, dan bernilai).

Dalam Behavioral
Learning
juga dipelajari Instrumental
Conditioning,
yang memandang perilaku pembelian berhubungan dengan tingkat
kepuasan tertentu. Ini dapat ditinjau dari kepuasan konsumen (customer satisfaction); reinforcement
schedule
yang dilakukan melalui media, event, dan lain sebagainya; shaping, untuk membentuk perilaku
konsumen; serta massed (memperkenalkan
produk baru pada khalayak) dan distributed
learning
(memetakan distribusi produk yang sudah dikenal) melalui
penjadwalan media.

Sedangkan pada Observational
Learning,
yang juga dikenal sebagai Vicarious
Learning
, konsumen dianggap seringkali mengobservasi bagaimana perilaku
orang lain dalam merespon situasi tertentu (stimulus) dan menghasilkan sesuatu (reinforcement) yang terjadi, sehingga
pada akhirnya menyebabkan mereka meniru (imitate)
perilaku yang mereka anggap positif dalam situasi sejenis.

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, selain Behavioral Learning, dalam pembelajaran
juga dikenal Cognitive Learning,
yakni pembelajaran pada ranah kognitif individu, meliputi pengetahuan dan
kepercayaan (calon) konsumen terhadap suatu produk tertentu. Cognitive Learning terdiri atas Information Processing dan Involvement Theory.

Information
Processing
merupakan kemampuan kognitif
individu dalam memproses kompleksitas informasi yang diterimanya. Informasi
produk ini mencakup atribut, merek, perbandingan antara merek, ataupun
kombinasi beberapa faktor diantaranya. Kemampuan tiap individu dalam membuat perbandingan
(imagery) berbeda-beda, bergantung
pada imagery vividness (kemampuan
individu dalam membangkitkan citra yang bersih/clear), processing style
(kecenderungan memproses pesan visual dibanding pesan verbal), serta isi dan
frekuensi daydream atau fantasi
(lamunan). Dalam Pemrosesan Informasi terjadi proses store (penyimpanan informasi) yang terdiri atas penyimpanan jangka
pendek (short term store) dan panjang
(long term store); retain (pemeliharaan informasi); serta retrieve (pemanggilan informasi kembali),
atau dengan kata lain individu melakukan proses decoding (penguraian pesan), memory,
dan recall.

Teori Keterlibatan (Involvement
Theory)
yang dikaji dalam Pembelajaran Kognitif seringkali dikaitkan dengan
strategi media. Ini dilakukan karena dengan memahami perilaku konsumen melalui
tingkat keterlibatan mereka, maka dapat ditetapkan strategi periklanan yang
paling sesuai terkait target market
yang ingin dikuasai. Terkait dengan hal ini, dikenal Elaboration Likelihood Model (ELM) yang menyatakan bahwa tingkat
keterlibatan individu selama pemrosesan pesan adalah faktor yang paling
menentukan rute persuasi mana yang perlu dilalui untuk menjaga efektivitas
pesan, sebagaimana dapat dilihat dari skema berikut:

Untuk memantau sejauh mana pembelajaran konsumen berhasil
dilakukan, dapat diukur dengan recognition
dan recall tests, yakni melalui
respon kognitif terhadap periklanan, pengukuran sikap dan perilaku berdasar
pada brand loyalty, serta brand equity produk.[6]

 

Yang
Sebenarnya Terjadi

–Pembahasan–

Duel maut yang terjadi antara Tolak Angin dengan
Bintangin memang bukan berita baru, karena sudah berlangsung sejak awal tahun
2008 lalu. Keinginan Bintangin untuk ‘menyerang’ tagline yang disuguhkan oleh
Tolak Angin pada satu sisi sebenarnya adalah hal yang cukup cerdas. Namun
masalahnya, bagaimana jika ternyata target konsumen (tidak saya sebut konsumen
di sini, karena penikmat iklan belumlah tentu penikmat produk) justru
menganggap bahwa usaha Bintangin ini malah mengarahkan mereka pada iklan Tolak
Angin yang telah dibuat sebelumnya?

Alih-alih berhasil, Bintangin justru meneguhkan peran
Tolak Angin sebagai jamunya orang pintar. Ini dapat dilihat dari adanya
beberapa pernyataan (calon) konsumen yang saya cantumkan kembali di sini:

“Bintangin
meledek Tolak Angin dengan iklan yang ngga
terlalu lucu dan terkesan maksa,
namun memiliki makna yang dalam. Apalagi iklan Bintangin ditutup dengan
slogannya ‘kalo yang ini semua bisa
minum’.”[7]

“Motto
Tolak Angin ‘orang pintar minum tolak angin’ kurang lebih begitu intinya. Motto
Bintangin ‘ngga harus pintar untuk
minum bintangin’ kurang lebih begitu isinya.”[8]

“Orang pintar minum tolak angin. Adalah
bahasa iklannya jamu Tolak Angin dari Sidomuncul. Kompetitornya, Bintang
Toedjoe dengan Bintangin-nya, juga bikin bahasa iklan tandingan kira-kira
seperti ini: Tidak perlu pintar untuk minum obat anti masuk angin.”[9]

Yang menarik, dengan adanya iklan Bintangin, konsumen
sasaran justru kembali teringat oleh tagline
yang sudah lebih dulu diusung oleh Tolak Angin. Kalimat ‘Orang pintar minum
Tolak Angin’ seolah diiklankan kembali oleh pihak yang notabene adalah
kompetitor. Belum lagi pilihan kata “…kurang lebih begitu isinya” dan
“…bahasa iklan tandingan kira-kira seperti ini…” yang menunjukkan bahwa
(sebagian atau seluruh) khalayak justru kurang benar-benar menyimak tagline Bintangin.

Tambahan lain, dari hasil penelusuran yang saya lakukan
di sebuah situs lokal yang memuat suara konsumen di Indonesia, diperoleh
setidaknya 43 komentar yang ditulis untuk menanggapi produk maupun iklan Tolak
Angin ini.
[10]

Dari 43 komentar, ada sekitar 8 tulisan yang secara
langsung menanggapi tagline Tolak Angin yang baru secara positif. Ini artinya,
secara umum tanggapan terhadap iklan relatif baik, menimbang komentar awal
ditulis sejak tahun 2003 dimana (Alm.) Basuki ‘Srimulat’ lah yang masih menjadi
brand ambassador produk ini dengan
tagline “Wes ewes ewes… bablas angine”.

Terhadap produk, konsumen juga memberikan tanggapan yang
cenderung positif, terlihat dari rata-rata nilai yang diberikan oleh konsumen,
yakni 4.7 dari 5 (nilai sempurna). Ini menunjukkan bahwa secara umum (94%)
konsumen merasa puas terhadap produk Tolak Angin. Kalaupun ada kelemahan,
sebagian konsumen mengritisi rasa (karena tidak suka kandungan jahe yang
terdapat di dalamnya), tidak adanya kemasan botol, rasa yang terlalu manis,
rasa menthol yang dianggap membuat lidah terasa pedas, endapan jamu yang kadang
masih terasa, efek samping mengantuk, tidak layak dikonsumsi wanita hamil dan
penderita ginjal, rasa pahit yang tertinggal, serta kemasan sachet yang
sebenarnya dianggap oleh produsen cukup praktis namun dirasa rentan tumpah oleh
konsumen. Sedang 21 diantaranya menyatakan masih belum menemukan kelemahan
produk.

Jika dikaitkan dengan kerangka teori yang telah saya
paparkan sebelumnya, maka jelaslah sudah bahwa pada dasarnya yang ingin
dilakukan oleh Tolak Angin adalah pembelajaran terhadap konsumen mereka. Dipilihnya
Dewa 19, Titik Puspa, Agnes Monica, dan Butet Kertaradjasa dianggap mampu merepresentasikan
‘orang pintar’ yang minum Tolak Angin sehingga diharapkan mampu menggiring
kalangan menengah atas (premium) untuk turut mengonsumsi produk ini.

Meski sempat ‘goyah’ akibat serangan yang diberikan oleh
Bintangin, Tolak Angin rupanya dengan cukup cekatan membentengi diri dari serangan
tersebut dengan ‘meralat’ tagline-nya menjadi: Orang pintar pilih yang benar,
orang pintar minum Tolak Angin.

Iklan Tolak Angin yang secara garis besar berisi: (1).
Kandungan jahe, mint, dan madu dalam Tolak Angin; (2). Kandungan ini berkhasiat
mencegah dan menyembuhkan penyakit masuk angin; serta (3). Orang pintar pilih
yang benar, orang pintar minum Tolak Angin; telah menjadi cues yang mampu mengarahkan target
market
-nya sekaligus membentuk motivasi tersendiri untuk merespon dan
meneguhkan sikap serta perilaku konsumen secara positif, yakni dengan membeli
dan mengonsumsi produk tersebut.

Gambaran pabrik jamu milik Sido Muncul yang telah
mengalami modernisasi (sebagian tenaga manusia digantikan oleh tenaga mesin
yang serba praktis dan massif) ikut ditampilkan dalam iklan, seolah Tolak Angin
ingin ditegaskan sebagai jamu yang memang telah berstandard farmasi. Sehingga tagline ‘Orang Pintar Pilih yang
Benar…’ dirasa sangat mewakili visualisasi tersebut.

Acara
Sarasehan Budaya sekaligus Peluncuran Iklan TV Terbaru Tolak Angin “Indonesia
Truly Indonesia” yang Menampilkan Agnes Monica dan Butet Kertaredjasa sebagai
Brand Ambassador pada Bulan Desember 2007

Keputusan Tolak Angin untuk memproduksi iklan “Indonesia
Truly Indonesia” pun dipuji oleh banyak kalangan sebagai langkah yang tepat
untuk mencitrakan Sido Muncul, dalam hal ini diwakili Tolak Angin, sebagai
perusahaan yang peduli akan permasalahan sosial. Sekali dayung, dua tiga pulau
terlampaui. Sambil beriklan komersial, Tolak Angin juga melakukan Corporate Social Responsibility (CSR)-nya
dengan mengajak masyarakat untuk turut melestarikan budaya bangsa agar tidak
diklaim sebagai milik bangsa lain.

Dari segi Pembelajaran Perilaku (Behavioral Learning), produk yang tidak mengalami perubahan atau
tambahan atribut sedikitpun serta digambarkan berkhasiat menyembuhkan penyakit
masuk angin dengan adanya kandungan herbal madu, jahe, dan mint di dalamnya
menunjukkan Conditioned Stimulus.
Sedangkan setting yang ditampilkan
dalam iklan melalui modernisasi pabrik, kepedulian terhadap kebudayaan
Nasional, brand ambassador serta tagline yang baru, ditujukan untuk
mewakili Unconditioned Stimulus.

Untuk menghindari kejenuhan target konsumen terhadap
repetisi iklan yang ditampilkan, secara berkala dibuatlah variasi iklan, yang
awalnya menunjukkan pergantian tagline (Substantive Variations), lalu kemudian
dilanjutkan dengan pergantian brand
ambassador (Cosmetics Variations)
. Mulai dari Titik Puspa, Dewa 19, Butet
Kertaredjasa, hingga Agnes Monica.

Meski tidak melakukan perluasan jenis produk (Stimulus Generalizations), Tolak Angin justru
mempertimbangkan Stimulus Discriminations
dengan berusaha meraih pasar yang selama ini nyaris kurang tersentuh oleh
produk jamu sejenis milik kompetitor, apalagi kalau bukan dengan pemilihan tagline yang menjadi positioning sekaligus product differentiation-nya. Dengan
demikian, Cognitive Learning pun mau
tidak mau ikut tersentuh menimbang perubahan perilaku konsumen bukan tanpa
dilandasi oleh perubahan kepercayaan maupun pengetahuan mereka terhadap suatu
produk, baik setelah terjadi Information Processing maupun Consumer Involvement.
 

 

Lantas?

–Kesimpulan–

Jika sudah demikian, apalagi yang perlu dilakukan?
Menurut saya pribadi, Tolak Angin boleh saja melakukan premiumisasi, Bintangin
pun berhak menyerang tagline kompetitornya
[11]. Toh keputusan pembelian, lagi-lagi, ada di tangan
konsumen. Maka tak bisa tidak, hanya konsumen yang berhak menentukan pilihan
sikap dan perilakunya, tentunya setelah para marketer berusaha sekuat tenaga melakukan pembelajaran terhadap
(calon) konsumen mereka.

Namun yang perlu ditinjau kembali adalah bentuk
pembelajaran yang telah dilakukan oleh Tolak Angin, yang bisa saya katakan
berhasil. Bagaimana tidak? Pada satu sisi, Tolak Angin berusaha menarik minat
kalangan menengah atas untuk ikut mengonsumsi jamu, yang selama ini dikenal
sebagai konsumsi kelas menengah bawah. Namun pada sisi lain, Tolak Angin juga
tidak kehilangan target market mereka
sejak awal, yakni kalangan menengah ke bawah itu sendiri.

Repetisi yang dilakukan dengan strategi substantive variations (dengan mengubah tagline menjadi ‘Orang pintar pilih yang
benar, orang pintar minum Tolak Angin’), yang selanjutnya dipertahankan dengan cosmetics variations (dengan mengganti brand ambassador, saat ini dibintangi
oleh Agnes Monica yang mana merupakan simbol ‘gadis ideal zaman sekarang:
smart, cantik, multi talenta, dan sukses) sudah cukup untuk mempertahankan brand loyalty konsumennya. Dari saya,
dua kata saja, LUAR BIASA!

 

Jika Boleh
Menambahkan

–Sedikit Catatan–

Sebenarnya, jika tidak diwajibkan memilih[12], ingin sekali saya mengaitkan konsep yang telah saya
paparkan di atas dengan konsep perubahan sikap konsumen (Consumer Attitude Change). Mengapa perlu? Karena menurut saya,
proses pembelajaran yang dilakukan oleh Tolak Angin ini pada akhirnya memang
bertujuan untuk mengubah sikap kalangan menengah atas terhadap produk Tolak
Angin itu sendiri.

Sebagaimana diakui oleh Sido Muncul, sebenarnya memang
tidak ada yang berubah dari jamu produksi mereka ini. Bahkan segmentasi dan
target segmen pun tidak berubah, tetap saja kalangan menengah bawah mengingat
harga Tolak Angin memang relatif terjangkau. Namun, jika Sido Muncul ingin
melakukan perluasan pasar dengan mengubah sikap konsumen terhadap produk Tolak
Angin, dan langkah ini dapat diupayakan, kenapa tidak?

 

Daftar
Pustaka

BUKU

Schiffman, Leon G. dan Leslie Lazar Kanuk. 2004. Consumer Behavior. New Jersey: Pearson
Prentice Hall.

NON
BUKU

http://ipk4cumlaude.wordpress.com/2008/01/08/orang-pintar-minum-tolak-angin/,
diakses tanggal 25 April 2008.

http://manadocity.blogspot.com/2007/11/tolak-angin-vs-bintangin.html,
diakses tanggal 25 April 2008.

http://sidomuncul.com/newsdetail.php,
diakses tanggal 25 April 2008.

http://www.medicastore.com/forum/viewtopic.php?f=8&t=117,
diakses tanggal 25 April 2008.

http://www.pintunet.com,
diakses tanggal 25 April 2008.

http://www.pintunet.com/lihat_opini.php?pg=2007/12/17122007/68596,
diakses tanggal 25 April 2008.


[1] Istilah premiumisasi ini saya kutip dari studi kasus dalam artikel majalah yang
diberikan oleh pengajar.

[2] Basuki, salah satu anggota grup lawak Srimulat, yang kini sudah Almarhum.

[3] Sebagaimana saya kutip dari artikel majalah yang menjadi studi kasus.

[4] Sebagaimana saya kutip dari http://sidomuncul.com/newsdetail.php,
diakses tanggal 25 April 2008.

[5] Sebagaimana saya kutip dari http://manadocity.blogspot.com/,
diakses tanggal 25 April 2008.

[6] Penjelasan mengenai kerangka teori ini sepenuhnya saya
kutip dari presentasi N. R. Sari dalam kuliah Komunikasi dan Konsumen (kelas A)
tanggal 10 April 2008. Lebih lanjut dapat dilihat dalam Leon G. Schiffman dan
Leslie Lazar Kanuk (2004).

[7] Sebagaimana saya kutip dari http://manadocity.blogspot.com/,
diakses tanggal 25 April 2008.

[8] Sebagaimana saya kutip dari http://www.pintunet.com/lihat_opini.php,
diakses tanggal 25 April 2008.

[9] Sebagaimana saya
kutip dari http://ipk4cumlaude.wordpress.com,
diakses tanggal 25 April 2008.

[10] Dicantumkannya suara konsumen yang
bersumber dari www.pintunet.com ini tanpa
bermaksud menafikan fakta bahwa siapapun dapat menulis dan atau mengomentari
produk ini, termasuk ‘orang dalam’ sekalipun. Ini terkait kredibilitas media
online yang hingga detik ini masih menjadi perdebatan para ahli (ilmuwan).
Namun jika ditinjau kembali, sejauh pengamatan saya, komentar yang ditampilkan
pada situs ini relatif obyektif (tidak terlalu memihak) sehingga saya
menganggapnya sesuai untuk dijadikan data sekunder guna menunjang analisis
terhadap kisah ‘Premiumisasi Tolak Angin’ ini.

[11] Meski pemahaman mengenai black campaign ini masih menjadi
perdebatan yang cukup pelik mengingat belum ada regulasi yang secara jelas
membahas tentang Etika Periklanan di Indonesia

[12] Terkait soal perintah yang diberikan dalam take home exam atau Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah
Komunikasi dan Konsumen

Gender dan Buku Pelajaran Bahasa Indonesia SD

June 27th, 2008 by a-poetry87

Analisis Gender dalam
Buku Pelajaran:

Pandai Membaca dan Menulis 1a (untuk SD Kelas 1) sebagai Studi Kasus

oleh

Putri Utami Rizqianingtyas[1]

 

Membaca
kembali buku pelajaran saat Sekolah Dasar membuat saya terkenang akan masa-masa
penuh kepolosan. Polos, karena pada saat itu saya belum terlalu memikirkan
perihal realitas sosial. Ketika itu, selama suatu hal terlihat menarik dalam
pandangan, saya akan dengan senang hati mempelajarinya, termasuk mengeja
‘i-en-i-ni, ini… be-u-bu de-i-di, budi’. Saya yang masih seumur jagung itu,
belum paham benar bahwa tanpa sadar telah belajar tentang peran laki-laki dan
perempuan dari wacana yang terdapat dalam buku pelajaran bahasa, selain fakta
bahwa orang tua saya pun mendidik saya sebagaimana tuntutan masyarakat terhadap
bagaimana seharusnya seorang anak perempuan berperilaku. Seperti apa dan
bagaimana buku pelajaran Bahasa Indonesia untuk anak Sekolah Dasar berhasil
memproduksi peran laki-laki dan perempuan dalam konstruksi sosial hingga mampu
mewujud dalam sebentuk hegemoni? Berikut ini hasil analisis saya terhadap
representasi peran laki-laki dan perempuan yang terdapat dalam buku ini,
tentunya dengan menilik dari pemilihan
kata maupun ilustrasi yang ada.

 

Sekilas Pandai
Membaca dan Menulis 1a (untuk SD Kelas 1)

Buku adalah
jendela dunia. Begitu yang sering orang katakan untuk mendeskripsikan buku.
Bagi sebagian orang, bisa jadi demikian adanya, meski bagi sebagian lainnya
belum tentu. Sedini mungkin, sejak masuk taman kanak-kanak, atau bahkan taman
bermain (lebih dikenal sebagai play group),
anak sudah diperkenalkan pada buku. Harapan pendidik serta orang tua tentu saja
agar anak tumbuh dengan minat baca yang besar sehingga nantinya memiliki
wawasan yang cukup luas dalam hidup bermasyarakat.

Pandai
Membaca dan Menulis 1a (untuk Sekolah Dasar Kelas 1)
merupakan satu dari sekian
banyak buku yang diterbitkan oleh pemerintah dalam upayanya meningkatkan
kualitas pendidikan. Ditulis oleh A. Malik Thachir, cetakan ketiga buku ini
terbit pada tahun 1999, di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Secara
umum, buku ini berisi sepuluh (10) pokok bahasan, yakni mulai dari bab
Berkenalan (1999:1-6), Bersih Itu Sehat (1999:7-12), Aku Sayang Ibu (1999:13-20),
Kesenanganku (1999:21-26), Desa Kita (1999:27-32), Main Bersama (1999:33-40),
Bahaya Kebakaran (1999:41-48), Bila Musim Hujan Tiba (1999:49-54), Bergembira (1999:55-62),
hingga Giatlah Belajar (1999:56-63). Sebagaimana tertera di halaman cover, buku
ini tidak untuk diperdagangkan karena memang merupakan salah satu bentuk
subsidi pemerintah dalam dunia pendidikan. Tak heran jika kemudian selama satu
kurikulum, yakni kurikulum 1994, buku ini menjadi acuan yang digunakan oleh
banyak sekolah dasar negeri di seluruh Indonesia.

 

Tentang Gender dan Seks

Seks dan
gender adalah dua hal yang berbeda, meski seringkali masih dilihat dari sudut
pandang yang sama. Seks dipahami sebagai sesuatu yang kita terima sejak masih
dalam kandungan, yang tidak bisa kita ubah sepanjang masa, atau dengan kata
lain disebut sebagai jenis kelamin. Sedang gender merupakan konstruksi
masyarakat terhadap peran sosial laki-laki dan perempuan, yang bisa jadi
berbeda antara daerah satu dengan yang lain, pada waktu tertentu[2].
Dari sini, jelas sudah bahwa seks dan gender memanglah tidak sama, dan
seyogyanya tidak dipandang sama.

Jenis
kelamin adalah kodrat manusia yang bersifat biologis (alamiah), yang merujuk
pada perbedaan nyata dari alat kelamin. Bagi laki-laki, kepemilikannya terhadap
penis dan testis yang menghasilkan sperma, tentu tidak sama dengan perempuan
yang memiliki rahim, vagina, serta menghasilkan ovum (sel telur). Adalah kodrat
bagi perempuan untuk mengalami siklus menstruasi, mengandung, melahirkan, dan
menyusui, mengingat fungsi kelaminnya. Berbeda dengan gender, yang di banyak
daerah menunjukkan konstruksi terhadap wanita untuk melakukan peran sosialnya,
semisal memasak, membesarkan anak, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Lantas
bagaimana buku Pandai Membaca dan Menulis
1a (untuk Sekolah Dasar Kelas 1)
menggambarkan peran laki-laki dan
perempuan melalui pilihan kata dan ilustrasi gambar yang ditampilkan?

 

Representasi
Peran Laki-laki dan Perempuan dalam

Pandai Membaca dan Menulis 1a (untuk SD Kelas 1)

Untuk mengkaji representasi peran laki-laki dan perempuan dalam buku ini,
terlebih dahulu saya mengklasifikasikan pilihan kata (atau kalimat) serta
ilustrasi gambar yang ada berdasarkan jenis kelamin dan ‘tugas’ yang harus
dikerjakan. Secara umum, sebagaimana digambarkan dalam buku ini, perempuan
mendapat lebih banyak porsi pada ranah domestik, sedang laki-laki pada ranah
publik.

Pada halaman kedua, yang merupakan Pelajaran (Bab) 1, terdapat sub pokok
bahasan ‘Kegiatan di Rumah’ yang mengilustrasikan kegiatan seorang anak
perempuan di rumahnya. Mulai dari belajar (digambarkan dengan seorang anak yang
duduk sembari membaca buku di meja belajarnya), membantu ibu menyiapkan masakan
di dapur
(digambarkan dengan seorang anak perempuan yang tengah membawa sebakul
nasi, sementara sang ibu tampak sedang memotong sayuran di dapur), kegiatan
bermain boneka bersama kawan sebayanya yang sama-sama perempuan, serta duduk
manis mendengarkan (atau menyimak) penjelasan ibu sambil duduk di bangku kayu
panjang.

 

 
   
   

   

 

   
   

   

   

 

 

 
   
   

   

 

   
   

   

   

 

Pada bagian lain, yakni halaman 8 Pelajaran 2 “Bersih Itu Sehat”,
digambarkan bagaimana seorang anak perempuan sedang sibuk menyapu untuk
membersihkan kelasnya agar terlihat lebih bersih. Dan pada halaman 25, sekali
lagi ditampilkan anak perempuan, yang disebut bernama Umi, sedang bermain
boneka, sedang anak perempuan lainnya, yakni Usi, bermain lompat tali. Kemudian
pada halaman 35, ditampilkan Ani, Susi, dan Lili yang sedang bermain balon.

 

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya, di halaman
36 kembali ditunjukkan ilustrasi yang menampilkan tiga orang anak perempuan
tengah bermain jual beli atau pasar-pasaran. Pun ketika pada halaman 44 juga
ditunjukkan bagaimana seorang ibu masak, sementara sang bapak makan, yang
ditampilkan, baik secara ilustratif, maupun pemilihan katanya. .

Berbeda
dengan anak perempuan, anak laki-laki dalam buku ini cenderung diilustrasikan
melakukan pekerjaan semacam bermain bola dan layang-layang, hampir di seluruh
bagiannya. Misal, pada halaman 24 ditampilkan seorang anak laki-laki bernama
Musa yang digambarkan sedang membawa bola. Pada halaman selanjutnya, yakni 25,
Musa masih digambarkan sedang bermain (menendang) bola, sementara Sani
(ber)main layang-layang, dan Bani main (atau menggendong boneka) ayam.
Kemudian, pada halaman 34, lagi-lagi digambarkan banyak anak laki-laki yang
sedang bermain bola, diantaranya Musa, Ali, dan Amin.

Kemudian,
pada halaman 40, kembali disebutkan melalui tulisan: Musa main bola, Ali dan
Amin main bola, serta Ola main mobil-mobilan. Bahkan di halaman berikutnya,
yakni 41, seorang kakak laki-laki yang bernama Ali, tampak keluar rumah hendak
bermain bola ketika tiba-tiba Ani, sang adik, bertanya padanya perihal
kepergiannya. Hingga pada halaman terakhir pun diilustrasikan seorang anak
laki-laki yang sepulang
sekolah bermain bola.

Analisis Gender

Dari paparan
yang telah saya sebutkan mengenai representasi peran laki-laki dan perempuan
tersebut, terlihat bahwa anak perempuan cenderung dituntut untuk mampu memasak,
mengasuh anak (yang ditampilkan melalui gambaran bermain boneka), serta
membersihkan rumah, yang kesemuanya merupakan bentuk tanggung jawab atas ranah
domestik. Sedang anak laki-laki bertugas di ranah publik, yang diwakili oleh
banyaknya gambaran bermain bola dan layang-layang

Gambaran di
atas, disadari atau tidak, bagaimanapun telah berhasil memberikan kontribusi
terkait peran sosial laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, yang baik secara
langsung dan tidak langsung, menuntut perempuan untuk bertanggung jawab penuh
atas urusan rumah tangga, sedang laki-laki memiliki porsi yang lebih besar
terkait segala urusan di luar rumah. Dan ini telah menjadi sebentuk hegemoni
tersendiri, mengingat pendidikan semacam ini seringkali kian diteguhkan melalui
pola asuh orang tua, yang merasa berkewajiban atas dasar tuntutan masyarakat,
selain bersumber dari buku pelajaran yang diterbitkan oleh pemerintah maupun
swasta. Apakah jika saya seorang ibu yang tidak terampil memasak, itu berarti
saya tidak pantas disebut sebagai ibu yang baik? Apakah jika saya seorang
suami, itu artinya saya bertanggung jawab penuh atas kondisi finansial
keluarga?

Tanpa bermaksud mengubah pola yang sudah ada secara keseluruhan dengan
menuntut perempuan untuk selalu berada di luar rumah sedang laki-laki mengurus
segala keperluan rumah tangga, menurut saya, yang perlu diingat kembali adalah
bahwa seks dan gender merupakan dua hal yang berbeda. Bukan lantaran berjenis
kelamin perempuan lantas saya tidak boleh berpartisipasi di ranah publik,
begitupun sebaliknya bagi laki-laki. Karena pembagian porsi terkait peran
sosial bukan bergantung pada siapa berjenis kelamin apa, melainkan kesepakatan
yang ada diantara pihak-pihak yang terkait. Bisa dalam hubungan interpersonal
(keluarga, pacaran), ataupun dalam hubungan apapun. Yang juga perlu diingat,
perbedaan gender sebenarnya tidak perlu menjadi soal, selama kita mampu untuk
berbuat adil. Adil terhadap diri kita sendiri, maupun kepada masyarakat yang
ada di sekeliling kita. Toh konstruksi sosial tak lain adalah produksi manusia sendiri,
jadi kenapa musti takut untuk keluar dari ‘kotak buatan’ yang (bisa jadi) telah
menghambat kita dalam mengaktualisasikan diri??


[1] Penulis adalah mahasiswi Departemen Komunikasi FISIP Unair, NIM. 070517559

[2] Sebagaimana dipaparkan oleh Liestianingsih D.,
pengajar sekaligus Penanggung Jawab Mata Kuliah (PJMK) Komunikasi dan Gender
pada tanggal 3 Maret 2008.

Wajah Pendidikan dalam Film “Denias, Senandung di Atas Awan”

June 27th, 2008 by a-poetry87

Wajah
Pendidikan di Indonesia

dalam Film “Denias, Senandung di Atas Awan”

oleh

Putri Utami Rizqianingtyas[1]

 

Setiap
warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Begitulah isi UUD 1945 pasal 31
ayat 1. Namun bagaimana jika masih ada saja yang belum mendapatkan pendidikan
karena terbatasnya akses untuk menuju ke sana? Inilah yang menjadi inti cerita Denias, Senandung di Atas Awan, sebuah
film garapan John de Rantau.

Di
tengah maraknya produksi layar emas di Indonesia yang didominasi oleh film-film
dengan tema percintaan remaja dan horror, film Denias, Senandung di Atas Awan muncul ibarat oase di tengah padang
pasir. Dengan mengusung tema pendidikan dan semangat multikulturalisme, film
ini berhasil meraih beberapa penghargaan, diantaranya sebagai Film Terfavorit pada
Indonesia Movie Awards (IMA) 2007
yang diselenggarakan oleh RCTI, Integrity
Award
pada malam penganugerahan penghargaan kepedulian dan penegakan
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) 2007, Film
Terpuji pada Festival Film Bandung 2007, serta Film Indonesia Terbaik Kompetisi
Film Cerita Panjang Indonesia (Best
Picture)
pada Jakarta International
Film Festival
(Jiffest) 2007. Film ini juga berhasil mengantarkan sang
sutradara sebagai Sutradara Terbaik
serta Albert Fakdawer sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI)
2006.

Diproduksi
oleh Alenia Pictures, sebuah Production
House
yang baru didirikan oleh pasangan selebritis Ari Sihasale dan Nia
Zulkarnaen, film berkisah tentang perjuangan seorang anak laki-laki penduduk
asli suku pedalaman Papua yang memiliki keinginan besar untuk bersekolah secara
layak. Dari kisah nyata seorang anak laki-laki Papua bernama Janias, film
berdurasi 110 menit ini begitu kental akan nilai-nilai budaya karena banyak
memotret kehidupan suku pedalaman Papua, termasuk tradisi yang berlaku di
dalamnya. Namun bagaimana representasi wajah pendidikan Indonesia dalam film
ini? Inilah yang akan banyak saya paparkan dalam analisis kali ini, terkait
budaya yang ditampilkannya.

 

SEKILAS DENIAS

Cerita
bermula saat Denias (Albert Fakdawer
) mengikuti upacara pemasangan
koteka
[2]. Ini
merupakan tradisi yang secara khusus diadakan untuk merayakan beranjak
remajanya seorang anak laki-laki, yang kemudian ditandai dengan terpisahnya
honai
[3] antara
laki-laki dan perempuan, termasuk suami istri.

Tidak
seperti kebanyakan anak-anak yang tinggal di kota besar, bersekolah di
pedalaman Papua adalah hal yang tidak mudah mengingat jarak yang cukup jauh dan
medan yang cukup berat untuk ditempuh dari rumah ke sekolah. Kondisi sekolah
pun relatif seadanya dengan fasilitas yang minim. Namun bagi Denias, hal ini
bukanlah halangan karena keinginannya untuk meraih cita-cita jauh lebih besar.

Konflik
mulai bergulir ketika ibu Denias (Audry Papilaja) jatuh sakit dan meninggal
dunia karena musibah kebakaran. Sesuai tradisi, ayah Denias (Michael
Jakamirilena) harus menjalani upacara berkabung mandi lumpur dan pemotongan
jari. Denias, yang merasa bersalah karena menganggap peristiwa tersebut sebagai
buah kelalaiannya menjaga ibunya, kemudian termotivasi oleh nasihat yang
diberikan Maleo (Ari Sihasale), seorang anggota TNI AD, untuk terus bersekolah,
sesuai wasiat ibunya. Namun ternyata, sekembalinya ke sekolah, Pak Guru
(Mathias Muchus) justru pulang kembali ke Jawa untuk merawat istrinya yang tengah
sakit parah. Rasa semakin kehilangan kian dirasakan Denias ketika ternyata
Maleo pun harus pergi karena dipindahtugaskan ke daerah lain, meski sempat
mengajar dirinya dan kawan-kawannya selama beberapa waktu. Harapan Denias pada
Maleo pun kandas sudah.

Tak
ingin larut dalam kesedihan, Denias lantas bertekad pergi ke kota untuk
melanjutkan sekolah, meski tradisi sebenarnya mengharuskannya untuk membantu
ayahnya bekerja di ladang. Namun demikian, Denias tetap menempuh perjalanan
berhari-hari, berjalan kaki seorang diri dengan berbekal bola kesayangannya
serta pakaian seragam dan peta Indonesia yang diperolehnya dari Maleo. Derasnya
arus sungai, terjalnya jalan yang berbukit-bukit, sampai rasa lapar tak
menyurutkan niat Denias sampai akhirnya dia tiba di kota.

Di
sinilah Denias berkenalan dengan Enos (Minus Karoba) yang membantunya
beradaptasi begitu tiba di kota, termasuk menunjukkannya letak sekolah
fasilitas yang menjadi tujuannya. Sayangnya, impiannya untuk bisa bersekolah
tidak semudah membalik telapak tangan. Ayahnya hanyalah seorang petani yang
tidak memiliki biaya dan kekuasaan sebagaimana yang dimiliki oleh kepala suku. Terlebih
karena di sekolah tersebut Denias bertemu kembali dengan Noel (Ryan Manobi),
anak kepala suku di desanya yang sejak awal senang menantangnya berkelahi.

Beruntung
ada ibu Gembala (Marcella Zalianty), seorang guru yang berasal dari Jawa, yang
membantu Denias memperjuangkan kelangsungan pendidikannya. Denias sempat
tinggal sebentar di rumah ibu Gembala dan selanjutnya pindah ke asrama yang
diasuh oleh ibu asrama (Nia Zulkarnaen). Diburu rasa benci sekaligus cemburu
akan kedekatannya dengan Angel (Pevita Eileen Pearce) yang baik terhadap
Denias, Noel pun sering mencari gara-gara agar Denias tak betah tinggal di kota.
Selama di asrama, tak henti-hentinya Noel mengganggu Denias. Konflik terus
bergulir antara Denias dengan Noel dan pihak-pihak yang pro-kontra terhadap
perjuangan ibu Gembala sampai pada akhirnya Denias berhasil diterima di sekolah
tersebut.

 

WAJAH PENDIDIKAN INDONESIA

Bagaimana
wajah pendidikan Indonesia saat ini? Barangkali dengan melihat film ini
sebagian dari kita terkejut, sedang sebagian lain merasa biasa. Sebagian nyaris
tak mempercayai apa yang dilihat, sementara sisanya sambil lalu saja. Ya,
setiap dari kita memang berhak memberikan pendapat, pujian, ataupun celaan
terhadap proses kreatif yang telah mewujud dalam film ini. Namun saya mencoba
menyikapinya dengan menggunakan sudut pandang analisis terhadap representasi
yang ada, baik dari segi penggambaran fisik maupun ideologi yang terdapat di
dalamnya.

Sebagaimana
disebutkan oleh John Fiske terkait semiotika film, setidaknya ada tiga level
yang bisa menggambarkan keseluruhan film, yakni level realitas, representasi,
dan ideologi.
[4] Pada level
realitas kita dapat melihat gambaran fisik yang ingin ditampilkan dalam suatu
film, yang selanjutnya mengarahkan kita pada representasi yang ditawarkan,
sehingga pada akhirnya menunjukkan ideologi yang terdapat di dalamnya.

Film, selain dipahami sebagai
sebuah hasil karya seni, juga dimaknai sebagai media komunikasi dalam
perspektif komunikasi massa yang sedikit banyak dipengaruhi oleh budaya dimana
film itu dibuat. Perpaduan antara realitas sosial dan konstruksi realitas yang
dibuat oleh industri film menjadikan film sebagai sarana yang unik untuk memahami
kondisi sebenarnya dalam masyarakat (Aminulloh, 2002).[5]

Menimbang
bahwa yang memegang peranan kunci dalam sebuah film adalah pemeran utama,
dibanding aktor ataupun aktris lainnya, maka secara umum yang akan saya
kemukakan adalah level-level yang melekat pada Denias, sang pemeran utama. Dari
segi realitas, sudah jelas bahwa kesederhanaan tergambar dengan jelas pada
Denias. Terhitung sejak awal hingga akhir cerita Denias hanya mengenakan tidak
lebih dari lima potong pakaian, yakni kaos yang biasa dikenakan pemain sepak
bola, kaos Superman yang diperoleh Denias dari Maleo, seragam sekolah dasar
putih-merah, dan kaos pemberian ibu Gembala. Make up yang dikenakan Denias juga
sangat natural, mengingat penokohannya sebagai anak dari petani suku pedalaman
yang bahkan juga jarang mandi. Dengan setting tempat di Papua secara
keseluruhan, yakni di gunung, sungai, danau, perkampungan penduduk, dan kota,
dialog-dialog yang diungkapkan mengalir sederhana dengan pemilihan kata-kata
yang relatif ringan sehingga mudah dipahami oleh anak-anak sekalipun.

Hal
lain yang menurut saya patut diapresiasi dalam film ini jika didasarkan pada
representasi pengambilan gambar yang dilakukan oleh sang sutradara adalah
proporsionalitas kerja kamera dan editing, sehingga setiap adegan dalam film
terlihat begitu indah secara keseluruhan.
Sebuah tekad anak manusia untuk maju yang
dilukiskan dalam film ini tidak hanya berhasil mengungkap kemauan baja sang
tokoh, tetapi juga menggambarkan sosok Denias dan Enos yang berjuang keras
untuk sekolah dengan melarikan diri dari rumah, mendaki gunung, menyeberangi
sungai, bermalam berhari-hari di tengah hutan dan kelaparan yang dipotret dalam
lukisan sinematographi yang terlihat manis sekaligus menyesakkan. Tentu ini juga ditunjang oleh totalitas akting
para aktor dan aktrisnya yang sebagian memang merupakan sederet nama-nama
besar, seperti Marcella Zalianty yang pernah memperoleh penghargaan sebagai Best Actress saat FFI beberapa tahun
yang lalu, meski sebagian sisanya, termasuk sang pemeran utama, justru terhitung
sebagai orang baru dalam dunia perfilman.

Sebagai
konstruksi budaya atas makna, film memproduksi representasi atas apa yang
sedang terjadi dengan memotret kehidupan masyarakat di tempat mereka berada
pada waktu tertentu. Begitupun yang berlaku pada film Denias, Senandung di Atas Awan yang diproduksi oleh Alenia
Production ini. Dengan menggunakan setting lokasi yang secara keseluruhan
diambil di pulau Cendrawasih, film ini menyuguhkan representasi realitas yang
terbalut dalam tradisi budaya masyarakat Papua di balik keindahan lanskapnya.
Mulai dari cara berpakaian, tradisi tinggal terpisah bagi laki-laki dan
perempuan dewasa, adanya keharusan bagi anak laki-laki untuk membantu orang
tuanya bekerja (di ladang), upacara adat pemasangan koteka bagi anak laki-laki
yang beranjak dewasa maupun upacara pemotongan jari dan mandi lumpur saat ada
anggota keluarga yang meninggal dunia, sampai adanya diskriminasi untuk
memperoleh akses terhadap pendidikan.

Pendidikan
menjadi isu yang krusial mengingat bangsa yang bisa berkembang hanyalah bangsa
yang memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas, yang sudah tentu hanya
bisa dihasilkan dengan sistem pendidikan yang tepat. Maka tak heran jika banyak
ahli yang sependapat bahwa

permasalahan struktural dan kultural dalam masyarakat kita salah satunya harus
dipecahkan melalui pendidikan.

Berdasarkan
sinopsis cerita yang telah saya paparkan sebelumnya, jelas terlihat bahwa film
ini mengusung tema dunia pendidikan di Indonesia, sebagaimana diakui oleh Ari
Sihasale, produser sekaligus salah satu pemain dalam film ini, dalam suatu
wawancara:

“Dengan mengangkat Papua, saya berharap
bisa memberi warna lain bagi perfilman kita. Wilayah Indonesia Timur jarang
diangkat. Tapi ceritanya, saya tidak hanya membicarakan tanah Papua, melainkan
persoalan pendidikan anak-anak. Dan hal ini bukan hanya persoalan anak-anak di
Papua, tapi banyak anak-anak di Indonesia.” [6]

 

Pendidikan
di Indonesia idealnya menjadi hak seluruh generasi muda tanpa terkecuali. Dipilihnya
anak-anak suku pedalaman Papua sebagai wakil atas kondisi yang sama yang juga
dihadapi oleh sebagian anak-anak Indonesia lainnya menjadi bentuk kepedulian Production House yang belum lama berdiri
ini.
Dan film ini mencoba
mengungkapkan dengan gamblang bahwa betapa mewahnya pendidikan buat sekelompok
masyarakat tertentu di negeri ini. Ini
menjadi sisi positif sekaligus nilai tambah sementara sebagian insan perfilman
lain dan masyarakat pada umumnya belum banyak mengangkat isu-isu seputar permasalahan
yang dihadapi oleh golongan minoritas.

Dengan
menggunakan alur maju, film ber-genre drama ini saya rasa cukup berhasil
mengaduk emosi penontonnya untuk menangis kemudian tertawa dalam jeda yang
singkat. Bagi penonton yang sensitif, bukan tidak mungkin menitikkan air mata
saat melihat adegan meninggalnya ibu Denias karena musibah kebakaran yang
disebabkan oleh kelalaian Denias saat menjaga ibunya yang sedang sakit sehingga
menjadikannya merasa sangat bersalah atas kepergian ibunya. Sementara di sisi
lain banyak terdapat lelucon yang sarat akan dialek dan jargon khas penduduk
Papua, seperti kalimat, “Itu sudah…!!”.

 

 

Selain
itu, perlu diperhatikan juga terdapatnya nilai-nilai lain yang secara implisit terkait
dengan ideologi yang ingin disampaikan dalam film ini. Seperti nilai-nilai
nasionalisme yang tampak saat Denias mempelajari pulau-pulau besar yang ada di
Indonesia sembari menyanyikan Indonesia Raya, lagu kebangsaan Republik
Indonesia. Juga adanya paradoks mengenai sosok tentara (TNI AD) pada tokoh
Maleo, yang menurut stereotype
kebanyakan masyarakat saat ini cenderung negatif daripada positif. Wajar saja,
mengingat pihak PH membutuhkan kerjasama dengan TNI untuk menggunakan
helikopter milik mereka selama proses syuting, sehingga (mau tidak mau?)
pencitraan tentara di sini pun relatif positif.

Diskriminasi
akses terhadap pendidikan yang digambarkan di sini ditonjolkan saat Denias,
seorang penduduk asli Papua, justru diperlakukan secara tidak adil oleh sesama
penduduk asli Papua sendiri yang merasa keberatan apabila dia, yang bukan
‘siapa-siapa’, bersekolah di kota, sebagaimana diucapkan oleh tokoh ibu
Gembala:

“Pertama kali saya menjejakkan kaki ke pulau
ini, saya pikir, ketidakadilan hanya dilakukan oleh orang-orang di luar pulau
ini, namun ternyata ketidakadilan juga bisa dilakukan oleh orang-orang dalam
pulau ini sendiri.”

 

Yang tampak kemudian
adalah, bahwa masyarakat Papua sekalipun tidak sanggup mengubah nasibnya
sendiri hingga butuh bantuan orang lain, yang dalam hal ini dicitrakan melalui
sosok ibu Gembala, Maleo sang tentara, maupun sang bapak guru, yang kesemuanya
berasal dari luar Papua.

Kerasnya
perjuangan yang harus dilakukan Denias agar bisa melanjutkan sekolah di kota
meski harus berjalan kaki berhari-hari dan menghadapi konfrontasi dari banyak
pihak yang pesimis akan keadaannya tentu juga dapat memberikan inspirasi bagi
siapapun untuk lebih berusaha mencapai cita-citanya. Bahwa bersekolah adalah
hal yang begitu penting dan harus diperjuangkan, bahwa belajar bisa dilakukan
dimana saja, bahwa persahabatan begitu indah, bahwa kita harus hidup dengan
satu tujuan, bahwa kita harus hidup dengan tertawa, bahwa kita harus memiliki
tekad yang kuat untuk mencapai apa yang kita inginkan, dan bahwa kita harus
terus memperjuangkan hidup meski didera banyak sekali masalah.

Bisa jadi, film yang ditujukan untuk
menjadi tontonan keluarga ini memang dibuat untuk menghibur sekaligus menyentil
pihak-pihak (yang menyadari) akan kurangnya semangat multikulturalisme dan
kesadaran akan pentingnya pendidikan yang hingga saat ini masih belum dimiliki sepenuhnya
oleh bangsa kita di tengah kemajemukan yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke. Kurang lebih itulah amanah yang menurut saya disampaikan secara halus
dan tanpa memberikan kesan menggurui disampaikan oleh film ini. Dan sebagai
akhir dari awal, jika saya harus mengakhiri, dari hasil analisis yang telah
saya paparkan di atas dapat saya ambil kesimpulan bahwa film Denias, Senandung di Atas Awan memang
layak meraih penghargaan yang telah diperolehnya karena telah berhasil
menyampaikan tujuan dalam tema yang dimaksud oleh sutradara dan produsernya,
bahwa setiap individu layak memperoleh pendidikan secara layak.


[1] Penulis adalah mahasiswi Departemen Komunikasi FISIP Unair, NIM. 070517559

[2] Pakaian
adat laki-laki suku pedalaman Papua

[3] Rumah adat suku di Papua

[4] Fiske, John. 2006. Cultural and
Communication Studies (Sebuah Pengantar Paling Komprehensif).
Bandung:
Jalasutra.

[5] Aminulloh, Akhirul. 2002. Pesan
Tentang Narkoba dalam Film Trainspotting (Studi dengan Pendekatan Semiotika),
Tesis.
Sumber: 
http://digilib.itb.ac.id/,
diakses tanggal 19 April 2007.

[6] www.indonesiasinema.com
diakses tanggal 30 September 2007

Putih itu (Belum Tentu) Cantik

June 27th, 2008 by a-poetry87

Putih Itu (Belum
Tentu) Cantik

oleh

Putri Utami Rizqianingtyas[1]

 

Dalam sebuah
kesempatan, tanpa sengaja, saya bertemu dengan kawan lama. Saya sebut kawan
lama karena memang, terakhir kali bertemu kami masih sama-sama menggunakan
seragam putih biru. Ya, saat kami duduk di bangku SMP. Praktis, hampir enam
tahun sudah kami tak bersua. Bukan perjumpaan tak disangka itu yang membuat
saya takjub, melainkan perubahan yang saya lihat. Seingat saya, kawan saya ini
termasuk siswi yang cukup pendiam, tak banyak cakap, dengan segala keluguan
yang menjadi satu paket di dalamnya. Rambutnya agak ikal, serta kulit sawo matangnya
seringkali berbalut keringat saat jam olahraga. Sedang gadis yang menyapa saya
terlebih dahulu pada hari itu terlihat sangat berbeda jauh karena rambut hitam panjangnya
tergerai lurus, pipi tampak ranum karena putih kemerahan, dan… sangat supel.
Mendadak saya berucap, kamu yang sekarang tampak jauh lebih cantik, kepadanya.

Saya juga
teringat saat usia 8 tahun belajar ngaji di Taman Pendidikan Al Quran (TPA) dekat
rumah. Guru ngaji saya sering bilang, semakin banyak kita meraup pahala dengan
menjalankan amal ibadah, maka akan semakin besar kemungkinan bagi kita untuk
masuk surga dan dilayani oleh bidadari cantik, yang kabarnya berkulit putih
bening hingga makanan apapun yang masuk melalui kerongkongannya pasti terlihat
dari luar. Baru saya tahu kemudian bahwa guyonan ini agak basi karena ternyata
grup Srimulat pun menggunakannya sebagai bahan lawakan.
[2] Yang terpikir waktu
itu, walau ingin masuk surga pun saya tak butuh ditemani bidadari cantik karena
saya juga perempuan.

 

Cantik itu Putih?

Membaca
Kompas hari Minggu, tanggal 9 Maret lalu, membuat saya kembali berpikir
mengenai wacana kecantikan. Cantik. Satu konsep yang seringkali menjadi
perdebatan. Bagi banyak dari kita, cantik itu relatif. Namun tak sedikit dari
kita yang juga mendefinisikan bahwa cantik itu putih. Putih? Sekilas ingatan
saya berbalik ke momen saat bertemu kawan SMP. Begitu melihatnya tampak lebih
putih, spontan saya memujinya. Apakah hal ini juga akan terjadi jika dia masih
dalam keadaan yang sama seperti dulu? Itu pula yang terjadi saat guru ngaji
saya ikut berkontribusi menegaskan bahwa putih itu cantik, secantik bidadari.

Dulu saya
juga sering berandai-andai setiap kali melihat pemilihan Putri Indonesia, event yang dinyatakan sebagai ajang unjuk
kecantikan luar dalam wanita se-Indonesia. Seandainya lebih tinggi dan lebih
putih, bukan tidak mungkin saya menjadi satu diantara sekian mereka yang
berdiri di sana. Begitu kuatnya media massa meng-hegemoni khalayak, termasuk
saya, dengan menciptakan kebutuhan akan berkulit putih, tidak hanya melalui
ajang pemilihan putri tersebut, tetapi juga segala bentuk program acara seperti
sinetron bahkan iklan, yang seringkali dibintangi oleh wanita berkulit putih.

Sudah berapa
banyak produk kecantikan yang menawarkan ‘putih’, sementara kita tahu bahwa
berkulit putih bagi kita adalah hal yang mustahil, mengingat kita memang tergolong
ras Melanesia. Berbeda dengan ras Kaukasia, bangsa Eropa-Amerika ini berkulit
putih sebagai akibat dari kurangnya kadar pigmen mengandung melanin atau zat
pewarna kulit yang mereka miliki.
[3]

Man is a fool. Ini yang diungkapkan Prof. Dr.
dr. SPKK (Konsultan) Retno Widowati Soebaryo. Manusia seringkali merasa tidak
pernah puas akan segala yang telah dimilikinya.
[4] Sedang Ayu Utami
berpendapat bahwa hal inilah yang menjadi sebab tumbuh suburnya kapitalisme,
mengingat faham ini memang hidup dari ketidakpuasan-diri konsumen yang
menyebabkan mereka terus-menerus mengonsumsi.
[5] Terbukti, narasi produk Pond’s
Flawless White: membantu menyamarkan noda hitam, kulit menjadi tampak lebih
putih dalam tujuh hari; Citra: membuat wajahmu tampak lebih putih alami; Olay, dengan
produk Olay White Radiance-nya; Martha Tilaar, yang juga memproduksi Putih
Langsat Sari Ayu; dan masih banyak lagi produk yang menjanjikan ‘kulit tampak
lebih putih’ lainnya.

Lucunya,
ketika wanita Asia berlomba-lomba untuk memutihkan kulit, yang terjadi di Eropa
dan Amerika justru sebaliknya. Pada saat yang sama, wanita Eropa Amerika pun justru
beramai-ramai berjemur di pantai untuk menghitamkan kulit, sebagaimana diungkap
oleh Ayu Utami. Menurut makalah yang dirujuknya, idealisasi keindahan kulit coklat
di Amerika Serikat adalah lantaran ini merupakan milik kelas atas. Kulit coklat
tidak dengan sendirinya menjadi indah, melainkan karena datang satu paket
dengan kemewahan berlibur di tempat eksotis. Dan hanya orang kaya saja yang
mampu melakukannya. Sebaliknya, yang terjadi di negara-negara Asia, termasuk
Indonesia, kulit putih justru dipandang kelas atas meruntut pada jaman kolonial
hanya mereka yang berkulit putihlah yang mampu mempekerjakan bangsa terjajah
yang berkulit gelap.

Perkembangan
teknologi secara tidak langsung juga ikut mengambil peran dalam hal ini. Iklan
yang menampilkan wanita cantik senantiasa memperlihatkan model yang putih
berkilau, sekalipun faktanya belum tentu demikian. Inilah yang disebut-sebut
sebagai usaha ‘merayakan kepalsuan’.
[6] Padahal produsen dan pembuat
iklan sendiri menyadari bahwa produk yang ditawarkan tidak akan pernah berhasil
memutihkan kulit konsumennya, menimbang kandungan melanin yang ada di dalam
kulit orang Asia. Jika pun kata putih yang dipilih, ini lebih karena asosiasi
putih yang secara semantik dipahami bersih.
[7] Seolah berkulit coklat berarti
berkulit tidak bersih.

Ditambah
lagi dengan kehadiran iklan yang melulu menggunakan alur cerita dengan
memandang wanita menggunakan mata lawan jenisnya. Lihat saja bagaimana pada
salah satu iklan digambarkan sang lelaki pada akhirnya menikahi wanita yang
pernah dia lepas setelah si wanita menggunakan Pond’s.
[8] Juga ketika seorang
pria di panti jompo baru makan bubur setelah dilayani suster muda yang
menggunakan Citra.
[9] Usaha melanggengkan
citra ‘cantik itu putih’ rupanya telah begitu kental dalam ranah kehidupan kita
hingga nyaris mendarah daging. Padahal, memaksakan kulit untuk menjadi putih
itu belum tentu sehat, sebagaimana dipaparkan oleh banyak ahli kulit.
 Namun hasil penelitian
di banyak kesempatan hingga detik ini, masih saja menunjukkan bahwa sebagian
besar wanita ingin kulitnya menjadi tampak lebih putih dari sebelumnya.

 

Saya Manis

Saya akui,
saya memang sempat mengalami krisis kepercayaan diri akibat warna kulit yang
tidak menuruti konsep cantik pada umumnya. Tapi itu dulu, saat saya belum
bertemu dengan konsep manis. Lepas dari apakah konsep ini sengaja diciptakan
sebagai tandingan atas konsep cantik itu (pasti) putih, saya yang sekarang jauh
lebih bisa menerima dan menghargai keberadaan diri sendiri. (Barangkali)
kuncinya memang harus lebih banyak bersyukur. Toh wacana kecantikan ini hanya
rekonstruksi realitas yang diproduksi oleh manusia yang ‘berkepentingan’ untuk
bermain-main di ranah ‘wants’ individu.
Dan identitas diri wanita tidak terbatas pada warna kulit yang melekat di luar
dirinya.


[1] Penulis adalah mahasiswi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Unair, NIM.
070517559

[2] Lihat kumpulan essai Ayu Utami, Si Parasit Lajang dalam Seks, Sketsa, dan Cerita (2004:85)

[3] Lihat Kompas, Minggu, 9 Maret 2008, Putih Kulitku, Berkilau dan Cerah, halaman
17

[4] Lihat Kompas, Minggu, 9 Maret 2008, Putih Belum Tentu Sehat, halaman 17

[5] Lihat kumpulan essai Ayu Utami, Si Parasit Lajang dalam Seks, Sketsa, dan Cerita (2004:88)

[6] Lihat Kompas, Minggu, 9 Maret 2008, Merayakan Kepalsuan, halaman 18

[7] Lihat Kompas, Minggu, 9 Maret 2008, Putih Kulitku, Berkilau dan Cerah, halaman
18

[8] Lihat Kompas, Minggu, 9 Maret 2008, Putih Kulitku, Berkilau dan Cerah, halaman
17

[9] Lihat Kompas, Minggu, 9 Maret 2008, Putih Kulitku, Berkilau dan Cerah, halaman
18

Pada Suatu Siang Menjelang Sore

May 10th, 2008 by a-poetry87

Rite now… i’m sitting beside Andre, sum1 that -still- i couldn’t describe…
>>wakakak… ampun, Ndre!!!

65 menit lagi, terhitung 3x sudah saya berpartner dengannya nyerocos di studio.
Ada yang bilang, angka ganjil -terutama 3!- adalah angka yang baik.
Jadi, saya sangat-sangat berharap, setidaknya setelah ini akan segera ada kejelasan tentang jadwal ‘kerja’ saya di sudut studio yang luar biasa ini.

Yak, saya katakan kerja, dengan tanda petik, karena menurut saya pekerjaan ini tidak akan terasa seperti pekerjaan mengingat saya mencintainya demikian sangat.
Yak, saya katakan luar biasa, tanpa tanda petik, karena beraktivitas di tempat semacam ini sudah merupakan impian saya sejak dulu. Ya… dulu sekaliii…..!!!

>>Lets call it ‘broadcast’, after this session…

Tukang nyerocos. Ceriwis. Hobi ngomong. Ngoceh….
dan sederet kata yang menurut banyak orang emang seolah nempel di jidat saya sejak perjumpaan pertama mereka dengan makhluk sejenis saya.

Tadinya… ada yang bilang kalo kebiasaan ini ‘ndak baik’, dalam arti, buat apa siy kebanyakan muter menjelang njelasin duduk perkara kalo nerangin satu hal aja cukup dengan 1 kalimat ato bahkan 1 kata!!
Wait… kalo memang kebiasaan ini ‘buruk’, sebagaimana kata mereka, kenapa saya ndak balik memutarnya jadi ‘baik’, versi saya?? ;p

Nakalnya saya… saya bertekad menjadikannya kelebihan.. cepat ato lambat.
Dan inilah saya… hari ini….

Setelah jaman SD hobi ikudan lomba baca puisi -tapi ndak pernah menang! ;p-…
SMP ng-MC di acara-acara berjenis pentas seni, semangad banget giliran ada tugas Bahasa Indonesia bertajuk drama…
SMA masi ng-MC meski sempet keder duluan mengingat saya masuk ke lingkungan kota -setelah sebelumnya menempuh pendidikan di urban area macam Kecamatan Waru-, gabung Teater Risalah SMA Negeri 5 Surabaya yang begitu saya cintai dengan pentas-pentas kecilnya yang menurut saya begitu besar, ikut festival teater pelajar, ikud lomba baca pidato -Alhamdulillah, kali ini nggak perlu ‘menang’gung malu lagi setelah sebelumnya sering banget kalah!! =)- dan…
Kuliah… dengan segala keajaiban dan tantangan yang akan segera saya selesaikan -sebut saja tugas2 kuliah dan skripsi, Amien…-

Jadilah saya seperti sekarang…
Yang sering sok sibuk nerima tawaran ng-MC di beberapa tempat.
>> Saya termasuk penganut aliran… sedikit2 lama jadi bukit..hehe
Yang masi berusaha sebisa mungkin mbagi waktu antara studi, organisasi, kerjaan, juga orang-orang yang saya cintai…
Yang sering jatuh, tapi berusaha sekuat tenaga buat bangun lagi…
>>nggak cuman dalam rangka memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional…hoho

Terimakasih Tuhan… atas segala yang terbaik yang Kau anugerahkan kepada hamba hingga detik ini…

Dan…. hari ini…
saya sedang duduk manis di studio.
Di sebuah ruko yang berlokasi di daerah Darmo Permai Utara…
tengah melakoni tes siaran -untuk ketiga kalinya- menjelang status saya sebagai penyiar freelance di salah satu radio swasta di Surabaya…
duduk di samping Andre, salah satu penyiar yang keberatan disebut penyiar senior tapi lebih suka dianggep penyiar yang udah lebih dulu populer.. .>>huikkkk!!!! ;p

Wish me luck!!

Cerpen jaman SMA…hehe

February 5th, 2008 by a-poetry87


Sepucuk Surat dari Sahabat

 

Ketika seorang pemuda berkata, “Jelaskan
pada kami tentang persahabatan.” Maka Mustafa menyambutnya…

‘Sahabat kalian adalah dia
yang kalian butuhkan dan kadang-kadang dia yang kalian campakkan…’

‘Kalian mendatanginya dalam
keadaan lapar, lalu kalian memintanya untuk beristirahat.’

‘Ketika sahabat kalian
memanggil kalian, maka janganlah takut berkata “tidak” dalam benak kalian. Dan
janganlah kalian kikir terhadapnya dengan berkata “ya”. Karena segala pikiran,
suka dan luka dalam persahabatan hanyalah terlahir dan saling menyumpah, tanpa
perlu perdebatan. Dan dengan gembira dia tidak memanggil.’

Ketika kalian berpisah
dari sahabat kalian, maka janganlah bersedih
. Karena banyak yang kalian
cintai itu, kadang-kadang menjadi lebih nyata di dalam ketidakhadiran, seperti
gunung bagi para pendaki. Karena gunung menjadi nampak lebih jelas dan indah
bagi para pendaki, dari kaki gunung itu. …’

‘Dan jadikanlah sahabat
kalian itu sebagai sesuatu yang terbaik yang ada pada diri kalian. …’

‘Dalam kelezatan
persahabatan, tertawalah kalian dan saling menyumpahlah kalian dengan
kegembiraan. Karena dalam nadi, sesuatu yang kecil sekalipun, hati menemukan
cahayanya, sehingga ia menjadi tangkas.’

                                                                        –*–

Tanpa
aku beritahupun, aku yakin kamu udah tau kalo ratusan kata yang aku tulis di
atas aku dapetin sebagai hasil ngutip dari Sang Nabi (The Prophet)-nya Khalil
Gibran. Sebagai penganut Gibranisme lokal, tentu kamu juga nyadar kalo ada
begitu banyak bagian yang aku sensor, dikarenakan aku nggak tau maksudnya!
Hehehe… Jsuratsuratsurat Jadi, cukup nikmatin aja surat dariku ini dengan
hati berbunga-bunga. Karena selain bakalan panjaaa…aaangg… banget, ini bakalan jadisurat pertama sekaligus terakhir yang aku
kirim buat kamu.

sanakotakanHei…
masih inget nggak, gimana ceritanya kok kita bisa kenalan trus langsung nempel
kayak perangko yang di-lem pake lem UHU?! Waktu itu, kamu dan aku masing-masing
lagi duduk sendirian dalam suatu ruangan secara terpisah, yang nggak lain dan
nggak bukan adalah ruang kelas baru kita di bangku SMU. Nggak tau kenapa,
tiba-tiba ekor mata kita saling bertemu pandang. Dan bisa ditebak, setelah itu
kita saling melempar senyum. Aku, yang pada dasarnya paling nggak bisa disuruh
diam menikmati kesendirianku… langsung deh jingkrak-jingkrak. Seakan baru aja
dapat mangsa untuk diajak kenalan. Syukurlah, gayungku kau sambut. Dengan senyuman
malu-malu tapi mau, kau keluarkan sebaris kata sebagai awal perkenalan kita.
Kau sebutkan namamu, kemudian kusebutkan namaku. Sudah. Selesai. Singkat
memang, tapi kejadian itulah yang mengawali persahabatan kita. Mungkin, karena
kita sama-sama anak perantauan dari desa nun jauh di sana,
juga sama-sama punya cita-cita untuk melanjutkan jenjang SMU di kota, yang katanya bakalan
menjanjikan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Padahal, kita
sama-sama setuju kalau seandainya kita ngelanjutin SMU di desa asal kita
dulupun, belum tentu kita nggak maju. Segalanya bergantung pada keuletan dan
kerja keras kita nantinya, kan?Nggak menjamin kok, katamu dulu. Ingat?

Mungkin,
karena kita ngerasa senasib sepenanggungan itulah, akhirnya kita klop. Ditambah
lagi, seringkali kita sepemikiran. Istilahnya seiya sekata. Ingat Dika, kawan
kita yang sering bilang… jangan-jangan sebenernya kita kembar! Whua… kembar
darimana… kalo kamu putih, sedangkan aku item! Hiks… kalo inget ini… dulu kamu
sering bilang ke aku kalo itemnya aku itu manis, original… versi bule! Ye…
terserah bule-bule itu mau bilang apa tentang item. Yang jelas, aku nggak
pernah ngerasa item! Karena yang bener tuh… warna kulitku sawo matang,
sedangkan kulitmu kuning langsat!! Yang putih tuh susu, sedangkan yang item tuh
kopi!! (Kamu ngakak waktu denger argumenku ini).

Nah,
balik lagi ke bab kembar…, kita nggak kembar kok! Malah, kita beda banget. Di
saat kamu jalan pake rok, aku pake celana panjang. (masih inget jeans yang kamu
kasih ke aku pas hari Ulang Tahunku? Saking seringnya aku pakai, tuh celana
jadi nggak berwujud lagi, alias sobek plus luntur di sana-sini. Tapi tenang
aja… tuh celana masih tersimpan dengan rapi dan aman di tempatku kok. Kan kujadikan benda itu
sebagai peninggalan budaya yang tak ternilai harganya. Cie…). Di saat kamu
belajar masak plus bikin kue, aku latihan karate. Dan di saat kamu lagi
memahami plus memaknai buku pelajaran, aku malah lagi memahami plus memaknai
komik! (Ini mah namanya males, bukan beda!!) Jadi…,
coba tebak apa yang bikin orang mikir kita kembar di saat ada banyak bukti
otentik yang menerangkan kalo kita ini njeglek??!!

Kadang,
pas aku lagi nggondok berat gara-gara abis kamu cuekin… dengan polosnya kamu
tanya ke aku, apa ada yang bisa kamu lakukan buatku. Tapi, pas aku nyuekin
kamu, kamunya malah bales cuek dua kali lipat!! Huh… apa nggak tambah mangkel
tuhh?! Trus, waktu aku lagi sedih… banget, kamu cuma diem. Dan ketika aku udah
nggak manyun, kamu tanya… apa matamu diizinkan berfungsi hanya untuk menatap
kepedihanku, apakah bahu dan tanganmu diizinkan berfungsi untuk merangkum rasa
sakitku, apa telingamu diizinkan berfungsi untuk mendengarkan segala keluh
kesahku, dan apakah mulutmu diizinkan berfungsi untuk memberikan pilihan solusi
bagiku??? Ahh… mau tak mau aku selalu mengizinkanmu untuk melakukan semuanya!

Kita
ini akrab banget. Tapi ternyata semua itu nggak menjamin kalo persahabatan kita
bakalan terus berjalan lancar. Kayak persahabatan-persahabatan lainnya, dalam
persahabatan kita juga sering ‘diberi’ bumbu biar nggak hambar! Dan nyatanya,
kita selalu berhasil melewatinya dengan sukses. Masih jelas terekam dalam
memoriku, rintangan terberat yang harus kita lalui adalah ketika aku diharuskan
memilih antara kamu dan pacarku, Randy. Terus terang…, ketika itu aku sangat
bingung. Tanpa sadar aku telah berjalan jauh di depanmu, dan ketika aku menoleh
ke belakang… kau sudah tak ada. Kupikir, aku akan kesepian…, menikmati
kesendirianku seorang diri ketika aku telah menyadari bahwa walaupun aku tidak
akan pernah menikah dengan sahabatku, tetapi pada dirimulah aku menemukan hal
terbaik dalam diriku. Maaf, karena aku sempat menyia-nyiakan persahabatan kita
dan hampir melupakan banyak pengorbanan darimu. Tapi, yang bikin aku sebel
pangkat sepuluh adalah… pas aku minta maaf ke kamu, kamu cuma senyum dan
bilang…, makasih. Cuma itu?! Aneh…, tapi pada saat itulah aku menyadari banyak
hal yang salah satunya adalah… kamu merupakan sahabat terbaik bagiku!

Suatu
saat nanti, ketika kita sudah tak diizinkan untuk terus bersama…, aku harap
engkau selalu meluangkan 1 detik pada tiap harimu untuk mengingatku. Karena
aku… adalah sahabatmu yang telah menyayangimu sejak awal mula.

 

“Nenek bahagia sewaktu muda dulu?” Pertanyaan
cucuku menyadarkanku dari lamunan yang cukup panjang.

Hhhffhh… Kutarik nafas sejenak. “Ya…, sangat!!
Walaupun masa-masa penuh kenangan indah itu tak berjalan lama. Tapi Nenek
yakin, Nenek akan selalu mengenangnya.”

Sejenak pikiranku melayang ke berpuluh-puluh tahun
silam. Kupejamkan mata, kemudian kegelapan tak berujung menusuk pandanganku.
Sobat, aku sedang menyusulmu…

 

>>tiba-tiba berminat memamerkan cerpen jaman SMA kelas satu dulu untuk menunjukkan proses belajar saya dalam membuat cerpen…